Para peserta yang terdiri dari pengelola PKBM, LKP, SKB, tokoh pendidikan, pegiat budaya, hingga pelaku ekonomi kreatif daerah, bahkan rela menempuh perjalanan panjang melalui jalur darat dan laut dari Ketapang, Banyuwangi menuju Jembrana—gerbang Bali dari Pulau Jawa.
Komitmen Nasional Perkuat Mutu Pendidikan Nonformal
Pembukaan jambore berlangsung khidmat di Gedung Kesenian Ir. Soekarno Jembrana. Ketua Umum DPN APPNFI, Dr. H. M. Ishaq Maulana, M.Pd, dalam laporannya menegaskan pentingnya konsolidasi nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan nonformal dan informal sebagai fondasi pembangunan manusia Indonesia.
Seminar Nasional menghadirkan pemikir dan praktisi pendidikan terkemuka, di antaranya Prof. Dr. H. Sucipto, M.S. dari Universitas Negeri Malang serta Dr. H. Syarif Hidayatulloh, S.S., M.Pd dari Kanwil Kemenag Provinsi Bali. Keduanya menekankan bahwa transformasi PNFI merupakan kunci peningkatan literasi, karakter, dan daya saing masyarakat.
Pada hari kedua, simposium menghadirkan Dr. KH. Fathur Rahim Ahmad, M.PdI, Ketua Ikatan Pesantren Indonesia Provinsi Bali, yang menyoroti sinergi strategis antara pesantren dan PNFI dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat berbasis nilai dan kearifan lokal.
Film Komunitas, Pilar Baru Ekosistem Kebudayaan Daerah
Salah satu sesi paling menarik perhatian adalah Sarasehan dan Workshop Best Practice PNFI yang menghadirkan Drs. Lukman Hakim, M.Pd dan Budi Sumarno dari Lokalfilm.id. Kehadiran Budi Sumarno difasilitasi Direktorat Pengembangan Budaya Digital sebagai bagian dari penguatan ekosistem budaya berbasis teknologi.
Dalam paparannya bertajuk “Membangun Ekosistem Film Daerah melalui Pendidikan Nonformal: Produksi, Distribusi, dan Keberlanjutan”, Budi menegaskan bahwa film pendek berbasis komunitas bukan sekadar karya seni, tetapi juga media pembelajaran kontekstual dan instrumen strategis penguatan identitas budaya lokal.
“Kolaborasi antara lembaga PNFI dan komunitas film daerah akan melahirkan karya edukatif yang bernilai budaya sekaligus memiliki peluang distribusi digital dan keberlanjutan ekonomi,” tegasnya.
UMKM Daerah Tunjukkan Dampak Nyata PNFI
Jambore Nasional PNFI 2026 juga diramaikan dengan Pameran UMKM yang menampilkan produk unggulan dari berbagai daerah, mulai dari kerajinan tangan, kuliner khas, hingga produk kreatif berbasis budaya hasil karya warga belajar PKBM. Pameran ini menjadi bukti konkret bahwa pendidikan nonformal mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Sebagai bagian dari pembelajaran ekonomi kreatif, peserta diajak mengunjungi Krisna untuk melihat langsung praktik industri oleh-oleh khas Bali yang sukses mengelola budaya menjadi kekuatan ekonomi.
Penutup Penuh Makna di Tepi Laut Sanur
Rangkaian kegiatan ditutup secara simbolis di Pantai Sanur, dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Penutupan ini menjadi simbol harmonisasi antara pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata sebagai satu kesatuan ekosistem pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Jambore Nasional PNFI dan Festival Budaya Daerah 2026 pun menjadi momentum konsolidasi nasional dalam memperkuat pendidikan nonformal sebagai penggerak utama pembangunan manusia, kebudayaan, dan industri kreatif daerah.
Ketua Panitia, Sishadi, S.Pd, berharap pada 2027 mendatang kegiatan ini dapat digelar lebih meriah dengan partisipasi yang lebih luas serta program yang semakin inovatif dalam mendukung sinergi pendidikan, budaya, dan transformasi digital Indonesia. (AA)


