-->

Iklan

Jual Jiwa demi Harta: Teror yang Terasa Nyata di Film Horor “Aku Harus Mati”

Ali Amran
26 Maret 2026, 8:59 PM WIB Last Updated 2026-03-26T13:59:04Z

Jakarta, Mediaberita6 - Di tengah maraknya fenomena pinjaman online dan gaya hidup serba instan, rumah produksi Rollink Action menghadirkan sebuah kisah horor yang terasa begitu dekat dengan realita. Film terbaru mereka, “Aku Harus Mati”, dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 2 April 2026.


Diproduseri oleh Irsan Yapto dan Nadya Yapto, serta disutradarai oleh Hestu Saputra, film ini tak sekadar menawarkan teror visual, tetapi juga menyuguhkan sisi gelap ambisi manusia tentang bagaimana keinginan untuk diakui bisa berubah menjadi jerat yang mematikan.


Menurut Irsan Yapto, film ini lahir dari fenomena yang kian akrab di kehidupan modern. “Banyak orang rela mengorbankan segalanya demi validasi sosial dan harta. Dari pinjol hingga paylater, semua bisa menjadi awal dari kehancuran jika tak terkendali,” ujarnya.


Ditulis oleh Aroe Ama, “Aku Harus Mati” mengikuti kisah Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam pusaran gaya hidup hedon. Demi mengejar kemewahan semu, ia terjerumus ke dalam lilitan utang yang kian mencekik. Dalam kondisi putus asa, Mala kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan mencari ketenangan yang ternyata justru membuka pintu petaka.


Di sana, ia bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jago (Bambang Paningron), sosok yang selama ini ia anggap sebagai ayah. Namun, segalanya berubah ketika Mala mengalami kejadian misterius yang membuka mata batinnya.


Sejak saat itu, teror demi teror mulai menghantui. Mala dipaksa menghadapi kenyataan kelam tentang asal-usulnya sebuah perjanjian iblis yang menuntut pengorbanan nyawa orang-orang terdekat sebagai harga dari kesuksesan.


Film ini membawa penonton pada konflik batin yang mencekam. Di titik klimaks, Mala dihadapkan pada pilihan yang mustahil: menyelamatkan diri atau mengorbankan orang yang ia cintai.


Hestu Saputra menegaskan bahwa film ini adalah refleksi dari kondisi sosial saat ini. “Teror sesungguhnya bukan hanya datang dari dunia lain, tetapi dari dalam diri manusia sendiri ketika kita kehilangan kendali demi memenuhi ekspektasi dan gaya hidup,” ungkapnya.


Dengan balutan horor yang intens dan cerita yang relevan, “Aku Harus Mati” bukan hanya sekadar film menyeramkan, tetapi juga cermin keras tentang realitas yang sering diabaikan.


Lalu, siapa yang akan menjadi korban? Dan siapa sebenarnya pemegang perjanjian iblis itu?

Temukan jawabannya di bioskop mulai 2 April 2026. (AA) 

Komentar

Tampilkan

Terkini