-->

Iklan

Wamenbud Giring Ganesha : Tantangan Musisi Era Digital Semakin Kompleks

Ali Amran
06 Maret 2026, 9:12 AM WIB Last Updated 2026-03-06T02:12:19Z

Jakarta, mediaberita6 - Dalam rangka menyambut Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret, komunitas musik Cita Svara Indonesia (CSI) menggelar Forum Diskusi Kedaulatan Musik Indonesia bertajuk “Beda Masa Satu Rasa”. Forum yang berlangsung di CC Cafe at Nancy’s Place, Kamis (5/3/2026), ini mempertemukan berbagai pelaku industri untuk membahas tantangan, peluang, dan strategi memperkuat ekosistem musik Indonesia agar lebih berdaulat sekaligus mampu bersaing di panggung dunia.


Hadir sebagai keynote speaker, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan bahwa dinamika industri musik saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa sebelumnya.


“Tantangan yang dihadapi musisi sekarang semakin kompleks,” ujar mantan vokalis band Nidji tersebut saat membuka paparannya.


Menurut Giring, musisi masa kini tidak lagi cukup hanya menciptakan lagu atau tampil di panggung. Mereka juga dituntut memahami berbagai aspek lain di luar kreativitas bermusik.


“Seorang musisi sekarang harus memahami banyak hal, mulai dari pengelolaan citra, storytelling, strategi media sosial, hingga pengembangan bisnis kreatif seperti merchandise dan kolaborasi dengan berbagai merek,” jelasnya.


Era Digital Buka Peluang Baru

Di sisi lain, Giring menilai perkembangan platform digital seperti YouTube dan Spotify membuka peluang besar bagi musisi dari berbagai daerah untuk menjangkau audiens yang lebih luas.


Ia menyoroti fenomena meningkatnya popularitas musik berbahasa daerah di era streaming digital. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa kekayaan budaya musik Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang.


“Sekarang kita melihat fenomena luar biasa. Musik berbahasa daerah justru memiliki peminat sangat besar. Di platform streaming, jumlah penontonnya bisa mencapai ratusan juta,” paparnya.


Namun, perubahan lanskap industri juga membuat peran musisi semakin luas. Selain berkarya, mereka perlu memahami bisnis musik, pemasaran digital, hingga konsep pertunjukan.


“Seorang artis atau band harus mengerti bisnisnya, memaksimalkan media sosial, bahkan memikirkan konsep panggung dan merchandise. Tantangan industri musik saat ini memang jauh lebih kompleks,” tegasnya.


Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

Giring juga menekankan bahwa penguatan ekosistem musik nasional tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, komunitas musik, pelaku industri, hingga media.


“Memajukan industri musik tidak bisa dilakukan oleh satu kementerian saja. Harus ada kerja sama lintas sektor, termasuk dukungan komunitas, pelaku industri, dan media,” pungkas Giring.


CSI Dorong Kedaulatan Musik Indonesia

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Cita Svara Indonesia, Harry “Koko” Santoso, menyampaikan komitmen komunitas tersebut untuk mendukung kedaulatan musik Indonesia di negeri sendiri.


Menurutnya, CSI hadir sebagai wadah sinergi yang bertujuan menggali potensi musik Indonesia sekaligus mendorong kolaborasi sehat antar-musisi di seluruh Tanah Air.


“Kami ingin membawa musik Indonesia ke panggung dunia sekaligus menjadikannya sebagai kekuatan budaya dan ekonomi yang dirasakan langsung oleh para pelaku musik,” ujarnya.


Harry juga menilai keberagaman musik Nusantara merupakan kekuatan besar yang dapat menjadi identitas Indonesia di kancah global.


“Musik memajukan bangsa adalah landasan pemikiran terbentuknya Cita Svara Indonesia. Kebhinekaan musik kita justru menjadi kekuatan besar untuk mendunia,” ungkapnya.


Namun ia mengingatkan bahwa derasnya arus budaya global juga menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan budaya lokal.


“Arus budaya dari luar perlahan bisa mengubah selera publik. Jika tidak dijaga, budaya Nusantara bisa tergerus secara perlahan,” tandasnya.



Momentum Konsolidasi Pelaku Musik

Forum diskusi tersebut juga menjadi momentum bagi Cita Svara Indonesia untuk memperkenalkan diri kepada publik. Komunitas ini beranggotakan para pelaku musik yang telah aktif dalam ekosistem musik nasional sejak era 1980–1990-an.


Gerakan ini digagas oleh sejumlah tokoh musik nasional, di antaranya Connie Constantia, Peter Frits Momor, Harry “Koko” Santoso, Jimmy Turangan, Maria Elizabeth, Tony TSA, Boetje Tenda, hingga Taraz Bistara.


Melalui forum ini, para pelaku industri berharap lahir langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat ekosistem musik nasional sekaligus mendorong karya musisi Indonesia semakin dikenal dan berdaya saing di panggung global. (AA)

Komentar

Tampilkan

Terkini