-->

Iklan

Liza Maria, Tiga Dekade Mengabdi di Dunia Televisi Kini Fokus Cetak Generasi Kreator Anak Indonesia

Ali Amran
25 Juli 2026, 11:42 PM WIB Last Updated 2026-07-25T16:50:39Z


Jakarta, Mediaberita6 – Setelah lebih dari 30 tahun berkarya di industri penyiaran televisi nasional, praktisi media sekaligus pemerhati program anak Liza Maria memilih mendedikasikan pengalaman dan keahliannya untuk membangun generasi kreatif Indonesia.


Di tengah derasnya arus digitalisasi, Liza meyakini anak-anak Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi sutradara, produser, animator, kreator konten, hingga inovator masa depan. Namun, menurutnya, potensi tersebut hanya akan berkembang jika didukung ruang berekspresi, pendampingan yang tepat, dan akses yang merata.


Komitmen itulah yang kembali mengantarkannya dipercaya menjadi bagian penting dalam Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) atau Festival Video Anak ASEAN. Pada penyelenggaraan tahun ini, Liza dipercaya sebagai Assistant Board of Indonesia, sekaligus melanjutkan rekam jejaknya sebagai dewan juri internasional yang telah dijalani pada SEAVFC Filipina 2018, Malaysia 2024, dan Thailand 2025.

Kepercayaan tersebut bukan tanpa alasan. Selama lebih dari tiga dekade, Liza telah membangun reputasi sebagai sosok yang konsisten menghadirkan program-program berkualitas bagi anak melalui berbagai stasiun televisi nasional seperti SCTV, TV7, Trans7, hingga Rajawali Televisi.

"Latar belakang saya memang dunia media televisi. Saya bekerja di SCTV, TV7, Trans7 hingga Rajawali Televisi selama lebih dari 30 tahun. Selama itu pula saya banyak memproduksi program berbasis video. Mungkin pengalaman itulah yang menjadi salah satu alasan saya dipercaya menjadi juri dan memiliki kepedulian terhadap anak-anak," ujar Liza.

 

Menurutnya, pemilihan dewan juri SEAVFC dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan pengalaman di industri media, kompetensi profesional, rekam jejak, serta kontribusi nyata dalam menghadirkan konten yang ramah anak di kawasan ASEAN.


Jejak Panjang Membangun Tayangan Anak Berkualitas

Perjalanan Liza dalam dunia program anak dimulai sejak awal tahun 2000-an. Salah satu karya pentingnya adalah sinetron drama musikal "Amelia" yang tayang di RCTI pada 2003. Sinetron tersebut mengangkat lagu-lagu karya maestro musik anak A.T. Mahmud dan berhasil meraih penghargaan Sinetron Anak Terpuji pada Festival Film Bandung.


Kesuksesan itu berlanjut ketika Liza berkarya di Rajawali Televisi melalui program Pesta Sahabat dan Dubidubidam. Kedua program tersebut mengantarkan stasiun televisi tersebut meraih tiga penghargaan Anugerah Anak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk kategori Program Anak Terbaik.


"Konten saya memang sejak lama dekat dengan dunia anak. Dari sinetron musikal sampai program-program televisi yang memberikan ruang bagi kreativitas anak. Itu yang membuat saya semakin yakin untuk fokus mengembangkan potensi kreativitas anak Indonesia," katanya.

 

Anak Indonesia Harus Menjadi Pencipta, Bukan Sekadar Penonton

Bagi Liza, perkembangan teknologi digital membuka peluang luar biasa bagi anak-anak untuk belajar berbagai keterampilan kreatif, mulai dari membuat video, fotografi, menulis naskah, hingga proses editing.


Namun, ia mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter dan nilai-nilai positif agar karya yang dihasilkan tidak sekadar mengejar popularitas.


"Anak-anak sekarang luar biasa karena didukung teknologi dan digitalisasi. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan mereka agar menghasilkan karya yang punya nilai positif. Jangan sekadar membuat konten untuk viral, tetapi membuat karya yang memiliki pesan, manfaat, dan bisa menjadi kebanggaan," tuturnya.

 

Menurut Liza, sebuah video berdurasi lima hingga sepuluh menit pun dapat menjadi karya luar biasa apabila dibangun dengan cerita yang kuat, kreativitas tinggi, dan pesan yang menginspirasi. Bahkan melalui SEAVFC, karya tersebut berpeluang membawa nama Indonesia di tingkat ASEAN.


"Kalau cerita mereka bagus, penyajiannya kreatif, dan memiliki nilai, itu bisa menjadi prestasi besar. Anak-anak tidak hanya menjadi pembuat konten, tetapi juga belajar menjadi storyteller yang mampu membawa nama Indonesia di forum internasional."

 


Momentum Hari Anak Nasional 2026

Dalam momentum Hari Anak Nasional 2026, Liza mengajak generasi muda untuk terus berani mengeksplorasi kemampuan diri. Menurutnya, pendidikan formal harus berjalan seiring dengan penguasaan keterampilan kreatif sebagai bekal menghadapi persaingan global.

"Jangan takut untuk berkreasi. Berani berkembang, berani menyampaikan ide, dan terus mengasah kemampuan. Anak-anak perlu belajar menulis, membuat video, fotografi, editing, hingga bercerita. Semua keterampilan itu akan menjadi modal penting di masa depan."

 

Ia menegaskan bahwa membangun generasi kreatif tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua, pemerintah, media, komunitas, hingga seluruh pemangku kepentingan harus bersama-sama menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya talenta-talenta muda Indonesia.


Liza juga mengingatkan agar perhatian terhadap pengembangan bakat anak tidak hanya terpusat di kota-kota besar.

"Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota-kota besar. Kita harus melihat anak-anak di kota kecil, daerah pinggiran, hingga Indonesia Timur. Mereka juga memiliki mimpi dan potensi yang luar biasa. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka."

 

Menurutnya, proses menemukan talenta kreatif sama pentingnya dengan membina atlet berprestasi. Dibutuhkan pembinaan yang berkesinambungan agar lahir generasi baru yang mampu menjadi sutradara, produser, animator, kreator digital, hingga inovator di berbagai bidang industri kreatif.


Karena itu, Liza menilai kehadiran Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) menjadi salah satu wadah strategis untuk membina sekaligus membuka panggung internasional bagi anak-anak Indonesia.


Dengan pengalaman sebagai Assistant Board of Indonesia dan tiga kali dipercaya menjadi dewan juri internasional, Liza berharap semakin banyak karya anak bangsa yang mampu bersaing di tingkat ASEAN bahkan dunia.

"Kalau kita serius membina mereka sejak sekarang, saya yakin akan lahir lebih banyak anak Indonesia yang bukan hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional. Mereka nantinya bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas yang mereka miliki," pungkasnya. (AA)

Komentar

Tampilkan

Terkini