-->

Iklan

Perfilman Inklusif: Penyandang Disabilitas Tak Sekadar Jadi Pemeran

Ali Amran
12 Agustus 2026, 5:29 AM WIB Last Updated 2026-08-11T22:29:22Z


Jakarta, Mediaberita6 — Pekan Diskusi Film Indonesia 2026 hari kedua menyoroti pentingnya membangun ekosistem perfilman yang inklusif dengan melibatkan penyandang disabilitas secara nyata, bukan sekadar menjadikannya sebagai tema atau karakter dalam film.


Diskusi bertema “Membangun Perfilman yang Inklusif” yang digelar di Pusat Perfilman Nasional (PFN) Heritage Jakarta, Selasa (12/8/2026), menghadirkan sutradara Teman Tegar Maira Anggie Frisca, perwakilan PPDI Drs. Gufron Sakaril, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Dr. Dante Rigmalia, serta Founder Inklusi Film Indonesia Budi Sumarno.


Gufron mengatakan, keterlibatan penyandang disabilitas harus dibuka di seluruh tahapan produksi, mulai dari praproduksi, produksi hingga pascaproduksi. Mereka juga perlu mendapat kesempatan menjadi aktor, penulis skenario, kru, sutradara maupun produser.


Menurutnya, keterlibatan tersebut bukan hanya memperkuat representasi, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi dan profesional bagi penyandang disabilitas. Film tentang disabilitas pun diharapkan tidak berhenti pada pencapaian komersial, melainkan mampu mengubah stigma dan diskriminasi di masyarakat.


Sementara itu, Budi Sumarno menegaskan, film inklusif tidak harus selalu mengangkat tema disabilitas. Penyandang disabilitas dapat terlibat dalam film bertema apa pun berdasarkan kemampuan dan keahlian mereka.


“Teman-teman bukan dilihat dari sisi keterbatasannya, tetapi karena punya skill dan kemampuan,” ujarnya.


Selain keterlibatan dalam produksi, aksesibilitas bagi penonton juga menjadi perhatian. Film perlu dilengkapi fasilitas seperti subtitle untuk penonton tuli dan audio-deskripsi bagi penonton tunanetra. Menurut Budi, aksesibilitas tersebut idealnya dirancang sejak tahap awal produksi, bukan setelah film selesai.


Sutradara Maira Anggie Frisca menambahkan, keberagaman tema film harus berjalan bersama keberagaman orang yang terlibat di dalamnya. Ia menilai film juga dapat menjadi media edukasi untuk membangun kesadaran tentang inklusivitas sejak usia dini dan mencegah perundungan di lingkungan sekolah.


Ketua KND Dante Rigmalia mendorong agar panduan produksi film inklusif disosialisasikan secara luas kepada para sineas. Penyandang disabilitas, kata dia, perlu dilibatkan sejak pengembangan ide hingga evaluasi agar representasi yang ditampilkan sesuai dengan pengalaman mereka.


Dante juga menekankan pentingnya aksesibilitas, baik dalam konten maupun fasilitas fisik seperti gedung bioskop. Penyediaan jalur kursi roda, takarir, bahasa isyarat, dan audio-deskripsi menjadi bagian penting dari ekosistem perfilman yang setara.


Diskusi tersebut menegaskan bahwa perfilman inklusif bukan sekadar menghadirkan karakter disabilitas di layar, tetapi menciptakan kesempatan yang setara untuk terlibat, bekerja, berkarya, dan menikmati film.


Kolaborasi pemerintah, sineas, komunitas disabilitas, pelaku industri, lembaga pendidikan, dan pengelola bioskop menjadi kunci untuk mewujudkan industri film Indonesia yang lebih inklusif sekaligus menjadikan film sebagai medium edukasi, penghapus stigma, dan pendorong perubahan sosial. (AA)

Komentar

Tampilkan

Terkini