-->

Iklan

Tak Minta Dikasihani! Lima Sahabat Disabilitas Buktikan Kemampuan Lewat Film ‘Terangku dalam Gelapku’

18 Oktober 2026, 11:21 PM WIB Last Updated 2026-10-18T16:21:08Z


Lima sahabat, lima kemampuan berbeda, dan satu pesan yang menggugah: jangan batasi mimpi seseorang hanya karena disabilitasnya. Film karya Mimi Jegon ini mengangkat persahabatan, perjuangan keluarga, dan keberanian untuk berkarya.

Mediaberita6 - Jayapura - 17/10/2026 : Bagaimana jika orang yang selama ini kerap dipandang sebelah mata justru menunjukkan bahwa mereka memiliki bakat, mimpi, dan kemampuan untuk berkarya?

Pertanyaan itulah yang menghidupkan film drama “Terangku dalam Gelapku”. Film garapan Ni Pande Rahayu Mustika Dewi, yang dikenal sebagai Mimi Jegon, ini mengisahkan lima sahabat dengan kondisi berbeda yang belajar saling memahami, menghadapi persoalan keluarga, dan membangun kepercayaan diri.

Mereka adalah Tasya, Abas, Kerti, Natali, dan Crystal. Ada yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, ada yang mengenali lingkungan melalui indra peraba dan pendengaran, serta ada yang menghadapi tantangan dalam mobilitas maupun proses belajar. Namun, mereka memiliki satu kesamaan: keinginan untuk diterima, mengembangkan kemampuan, dan mendapatkan kesempatan yang setara.

Pesan film ini sederhana, tetapi menantang cara pandang kita: apakah selama ini kita benar-benar melihat kemampuan seseorang, atau justru lebih dahulu melihat keterbatasannya?

Dari Film Horor ke Drama yang Menyentuh Persoalan Kemanusiaan

Bagi Mimi Jegon,” Terangku dalam Gelapku” menjadi langkah baru dalam perjalanan kreatifnya. Film ini merupakan karya kesembilannya sekaligus drama pertama yang ia garap setelah sebelumnya memproduksi delapan film bergenre horor.

Ide membuat film tentang anak disabilitas muncul pada 2025, ketika Mimi diundang menjadi pembicara dalam sebuah kegiatan perfilman yang dihadiri anak-anak dari sejumlah sekolah luar biasa (SLB) di Bali.

Di hadapan peserta, ia spontan menyampaikan keinginan untuk membuat film tentang anak disabilitas. Sebuah pernyataan yang kemudian menjadi tantangan tersendiri karena selama ini ia lebih terbiasa bekerja dalam genre horor.

“Saat itu saya spontan mengatakan akan membuat film tentang anak disabilitas. Padahal, dalam hati saya berpikir, saya belum bisa membuat film drama karena selama ini hanya membuat film horor,” kata Mimi Jegon . Keinginan itu akhirnya terwujud pada 2026 setelah mendapat dukungan produksi. Proses pengambilan gambar berlangsung selama dua bulan, jauh lebih lama dibandingkan film-film sebelumnya yang biasanya selesai dalam waktu sekitar dua minggu.

Perbedaan waktu produksi ini tidak lepas dari kebutuhan untuk menyesuaikan proses kerja dengan karakter dan kebutuhan para pemeran. Tim produksi harus memastikan setiap adegan dapat dijalani dengan baik, sekaligus membangun komunikasi yang nyaman bagi semua yang terlibat.

Abas Harus Menghafal Tangga dan Arah Belokan, Kru Pun Belajar Bahasa Isyarat
Salah satu tantangan produksi muncul ketika mengarahkan Abas, pemeran dengan disabilitas netra. Sebelum menjalani adegan, ia perlu mengenali dan menghafal lingkungan, mulai dari tangga, arah belokan, hingga posisi benda.

Sementara itu, tim produksi juga perlu mempelajari bahasa isyarat agar dapat menyampaikan arahan kepada pemeran Tuli. Guru bahasa isyarat dilibatkan untuk membantu memastikan komunikasi dan adegan tersampaikan dengan tepat.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa film inklusif tidak cukup dibuat dengan menghadirkan pemeran disabilitas di depan kamera. Proses produksinya juga perlu memberikan akses, membangun komunikasi, dan menyesuaikan metode kerja dengan kebutuhan pemeran.

Di sinilah pesan film bertemu dengan praktik nyata. Kesetaraan bukan berarti semua orang harus melakukan segala sesuatu dengan cara yang sama, melainkan setiap orang memperoleh dukungan yang dibutuhkan untuk berpartisipasi.

Lima Tokoh, Lima Kemampuan, dan Persahabatan yang Saling Melengkapi

Film ini menghadirkan lima karakter utama dengan kondisi yang berbeda.
Tasya dan Crystal merupakan perempuan Tuli. Abas adalah penyandang disabilitas netra, Kerti merupakan penyandang disabilitas fisik, sedangkan Natali adalah penyandang disabilitas intelektual dengan sindrom Down.

Dalam cerita, mereka saling membantu menghadapi tantangan sehari-hari. Kerti membantu Abas berkomunikasi dengan teman-temannya, sedangkan sahabat-sahabatnya memberikan dukungan kepada Kerti dalam aktivitas yang membutuhkan mobilitas.

Mereka tidak digambarkan sebagai orang yang selalu membutuhkan pertolongan. Mereka juga menjadi teman yang mampu memberi bantuan, berbagi kemampuan, dan menguatkan orang lain.

Persahabatan tersebut membawa pesan bahwa hubungan antarmanusia tidak seharusnya dibangun berdasarkan rasa kasihan, tetapi melalui penghargaan, kepercayaan, dan kesediaan untuk saling memahami.

Film ini juga mengangkat persoalan keluarga dan penerimaan terhadap anak disabilitas. Dukungan orang tua menjadi bagian penting agar anak memiliki kepercayaan diri, kesempatan mengembangkan bakat, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.


Mereka Punya Bakat, Bukan Sekadar Cerita Inspiratif

Kelima pemeran utama berasal dari Bali dan memiliki minat serta bakat di berbagai bidang seni.

Ni Putu Sri Widya Meganatasya, 12 tahun, pemeran Tasya, merupakan siswi kelas VI SLB Negeri 1 Badung yang berbakat dalam modeling dan tari Bali.

I Putu Baja Kariana Abas, 21 tahun, pemeran Abas, merupakan siswa kelas XII SMALB asal Bangli yang memiliki kemampuan bermain musik.

Komang Kertiasih, 19 tahun, pemeran Kerti, merupakan siswi kelas X SMALB asal Buleleng yang berbakat dalam bernyanyi, fotografi, dan videografi.

Komang Ayu Natalia Mahadewi, 16 tahun, pemeran Natali, merupakan siswi kelas X SMALB asal Denpasar yang berbakat dalam bernyanyi dan membuat kerajinan seni.

Sementara itu, Crystal Foo Natasya, 21 tahun, pemeran Crystal, menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Bali dan memiliki bakat dalam desain busana serta melukis.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa dunia seni dan perfilman dapat menjadi ruang bagi talenta disabilitas untuk berkembang. Kesempatan mengikuti proses produksi, mengasah keterampilan, dan tampil di depan publik merupakan bagian penting dari terbukanya akses yang setara.

Bakat tidak semestinya berhenti berkembang hanya karena seseorang menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, fasilitas, atau ruang berekspresi.

Dari Bali hingga Papua, Pesan Kesetaraan Ini Layak Didengar

Kisah dalam Terangku dalam Gelapku membawa pesan yang relevan bagi masyarakat di berbagai daerah, termasuk Jayapura dan Papua: setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkarya, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Di bidang seni dan perfilman, inklusi dapat dimulai dengan membuka kesempatan audisi bagi talenta disabilitas, menyediakan akses komunikasi yang sesuai, dan memastikan lingkungan produksi dapat digunakan bersama.

Di lingkungan keluarga, dukungan dapat diberikan dengan mengenali minat anak, menghargai proses belajarnya, dan tidak menetapkan batas masa depan hanya berdasarkan kondisi yang dimiliki.

Sementara itu, masyarakat dapat memulai dari tindakan sederhana, seperti mempelajari bahasa isyarat dasar dan membangun komunikasi yang menghormati kebutuhan setiap orang.

Film ini tidak menawarkan jawaban untuk semua persoalan disabilitas. Namun, melalui kisah persahabatan dan pengalaman produksinya, film ini mengajak penonton memulai percakapan yang lebih terbuka tentang penerimaan, aksesibilitas, dan kesempatan berkarya.


Menunggu Kesempatan Tayang di Bioskop

Terangku dalam Gelapku direncanakan diusulkan untuk tayang di bioskop pada 3 Desember 2026, bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional. Jadwal tersebut masih menunggu persetujuan pihak bioskop. Jika belum memungkinkan pada Desember, pihak produksi mempertimbangkan penayangan pada Maret 2027. Bagi Mimi Jegon, film ini diharapkan dapat membantu anak-anak disabilitas mengenali dan mengembangkan kemampuan mereka, sekaligus mendorong keluarga dan masyarakat memberikan dukungan yang setara.

Pada akhirnya, kekuatan Terangku dalam Gelapku bukan hanya terletak pada kisah lima sahabatnya, melainkan juga pada pertanyaan yang ditinggalkan bagi penonton.

Sudahkah kita memberikan ruang bagi seseorang untuk menunjukkan kemampuannya sebelum menilai apa yang tidak bisa dilakukannya?



Sebab, mereka tidak membutuhkan dunia yang memandang mereka dengan rasa kasihan. Mereka membutuhkan dunia yang membuka kesempatan agar mereka bisa belajar, berkarya, dan menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. (BS)

Komentar

Tampilkan

Terkini