-->

Iklan

Heart Pictures Ungkap Alasan Angkat Mitos Horor Korea dalam Film “Tolong Saya! (Dowajuseyo)”

Ali Amran
16 Januari 2026, 6:03 AM WIB Last Updated 2026-01-15T23:03:18Z

Jakarta, Mediaberita6 - Rumah produksi Heart Pictures siap menyapa penonton Tanah Air lewat film horor terbarunya berjudul “Tolong Saya! (Dowajuseyo)”, sebuah karya yang berani mengeksplorasi mitos horor Korea sebagai fondasi cerita. Mengusung pendekatan berbeda dari horor kebanyakan, film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga menggali sisi budaya dan spiritual Negeri Ginseng.


Menjelang penayangan perdananya, Heart Pictures menggelar Talkshow Urban Culture bertajuk “Mitos Horor Korea dalam Film ‘Tolong Saya! (Dowajuseyo)’” di CGV fX Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026). Acara ini menjadi bagian dari rangkaian promosi sekaligus ruang diskusi budaya untuk mengulas latar mitologi yang diangkat dalam film tersebut.


Dalam kesempatan itu, Produser Eksekutif Heart Pictures, Herty Purba, membeberkan alasan di balik keputusan memilih genre horor sebagai proyek debut rumah produksi mereka.


“Genre horor kami pilih dengan pertimbangan pasar, tapi juga karena tantangan biaya produksi film yang cukup besar. Ini debut kami, jadi harus benar-benar matang dalam menentukan genre,” ujar Herty.


Ia menambahkan, dalam satu hingga dua tahun terakhir, film horor menunjukkan performa luar biasa di bioskop Indonesia. Meski demikian, Heart Pictures tak ingin sekadar mengikuti tren.


“Kami ingin menghadirkan horor yang berbeda, baik dari sisi cerita maupun pesan. Tolong Saya! (Dowajuseyo) tidak hanya mengandalkan kejutan, tapi juga pengalaman emosional,” jelasnya.


Herty mengungkapkan, ide cerita film ini berangkat dari pengalaman nyata seseorang yang pernah belajar di Korea, yang mengalami kejadian mistis—melihat sosok menyerupai hantu yang seolah menatap dan meminta pertolongan.


“Pengalaman itu terasa sangat kuat dan menarik untuk diangkat ke layar lebar,” paparnya.


Cerita tersebut kemudian diperdalam melalui riset budaya. Menurut Herty, hingga kini masyarakat Korea masih memegang erat kepercayaan terhadap dunia spiritual dan mitos-mitos tertentu.


“Di Korea, kepercayaan pada arwah gentayangan, kesurupan, atau roh pembawa kesialan masih sangat hidup. Saat merasa tertimpa hal buruk, sebagian masyarakat bahkan melakukan ritual tradisional seperti tarian pedang untuk mengusir bala,” ungkapnya.


Selain itu, Herty juga menyinggung keberadaan fortune teller atau peramal nasib yang dikenal luas dan masih dipercaya hingga sekarang.


“Bukan dukun, tapi lebih ke pembaca nasib. Itu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Korea,” tegasnya.


Pandangan tersebut diperkuat oleh Kim Geba (Bung Korea), pemeran dalam film Tolong Saya! (Dowajuseyo). Ia menuturkan bahwa mitos, roh, dan kepercayaan terhadap kesialan memang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Korea.


“Kalau ada kejadian buruk, orang bisa melakukan ritual tertentu atau mendatangi fortune teller. Itu hal yang lumrah di sana,” ujar Kim.


Menurutnya, kepercayaan tersebut juga kerap menjadi inspirasi berbagai cerita di film maupun program televisi Korea.


“Banyak konten hiburan yang terinspirasi dari mitos dan kepercayaan itu karena memang dekat dengan kehidupan masyarakat,” tambahnya.


Tak hanya ceritanya yang autentik, pemilihan Busan sebagai lokasi syuting juga mendapat dukungan penuh dari berbagai institusi setempat. Herty menyebut hal ini sangat membantu, terutama untuk penggunaan lokasi-lokasi krusial.


“Syuting di universitas, rumah sakit, atau ruang publik biasanya sulit dan mahal. Tapi di Busan kami sangat terbantu, banyak pihak yang mendukung sehingga proses produksi berjalan lancar,” katanya.



Dalam film ini, Kim Geba dipercaya memerankan sosok dokter dan bahkan datang langsung ke Indonesia untuk memperdalam karakternya.


“Dia sangat total. Setelah konsepnya matang, kami merasa Kim adalah pilihan yang tepat,” ujar Herty.


Menariknya, meski mengusung genre horor, “Tolong Saya! (Dowajuseyo)” dikemas sebagai tontonan yang relatif ramah bagi remaja usia 13 tahun ke atas.


“Ini horor yang tidak mengandalkan darah atau kekerasan ekstrem. Sebagai seorang ibu, saya ingin film ini tetap aman ditonton remaja,” tutur Herty.


Film ini juga menyelipkan pesan edukatif, khususnya bagi pelajar Indonesia yang bercita-cita menempuh pendidikan di luar negeri.


“Ada pesan agar anak-anak yang belajar di luar negeri tetap berhati-hati, fokus pada tujuan, dan selalu membawa nilai-nilai yang membanggakan orang tua,” jelasnya.


Selain Herty dan Kim Geba, talkshow ini turut menghadirkan Euis Sulastri, M.A., Ph.D., dosen Program Studi Bahasa dan Budaya Korea, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, yang membahas mitos horor Korea dari sudut pandang akademik dan budaya. Diskusi dipandu oleh Dion sebagai moderator.


Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, film ini dibintangi Saskia Chadwick, Kim Geba, Cinta Brian, Dito Darmawan, dan Aruma Khadijah.


Film “Tolong Saya! (Dowajuseyo)” dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 29 Januari 2026. (AA)

Komentar

Tampilkan

Terkini

+