Jakarta, Mediaberita6 - Di tengah meredupnya pamor grup band di industri musik Indonesia, secercah energi baru justru lahir dari ruang pendidikan musik. Adalah The Morbius, band muda besutan Chic’s Musik, yang hadir membawa semangat segar sekaligus harapan baru bagi kebangkitan skena band Tanah Air.
Digagas langsung oleh CEO James Suhanda bersama Eksekutif Produser Heryadi Indra Kusuma, The Morbius bukan sekadar proyek biasa. Band ini merupakan hasil pembinaan serius sejak bangku pendidikan—sebuah langkah strategis untuk mencetak grup musik yang benar-benar siap bersaing di industri.
“Selama ini kami banyak melahirkan musisi individu. Tapi membangun band yang solid dan siap tampil di industri adalah tantangan berikutnya,” ungkap James.
Lebih dari sekadar eksperimen, The Morbius juga menjadi wadah mimpi kolektif para siswa. Heryadi menyebut, band ini lahir dari keinginan kuat untuk memberikan ruang berkembang dalam format grup yang lebih kompleks dan dinamis.
“Ini bukan hanya proyek, tapi perjalanan bersama antara manajemen dan para talenta muda,” ujarnya.
Diisi oleh para pelajar dengan latar belakang musik yang beragam, perjalanan awal The Morbius tidak selalu mulus. Perbedaan karakter sempat menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru dari proses itulah fondasi kekuatan mereka terbentuk.
Dica Melo, sang drummer, mengakui bahwa ego sempat menjadi hambatan. “Kami belajar menekan ego dan mulai saling memahami. Itu kunci awal kami bisa jalan bareng,” katanya.
Hal senada disampaikan Putu Devi (bass), yang menekankan pentingnya konsistensi latihan. “Kami membangun chemistry lewat rutinitas. Dari situ mulai terasa ‘nyatu’ sebagai band,” ujarnya.
Komitmen profesional juga menjadi nilai utama. Aditya bersama vokalis Cindy menegaskan bahwa menjaga fokus adalah hal yang tidak bisa ditawar jika ingin bertahan di industri yang kompetitif.
“Kami sepakat untuk tetap solid dan tidak membawa urusan pribadi ke dalam band,” tegas mereka.
Meski tergolong pendatang baru, produktivitas The Morbius sudah menunjukkan taji. Sembilan lagu telah mereka rilis dan mendapat respons positif di berbagai platform digital, dengan capaian puluhan ribu pendengar di tiap rilisan.
Deretan lagu tersebut antara lain Indonesia, Omdo, Stop Judol!, Hijau, Sang Juara, Naturalisasi, Kriing Tiing, Say No!, hingga Selamat Ulang Tahun (Happy Birthday)—menampilkan spektrum musikal yang luas dan eksploratif.
Langkah berikutnya, The Morbius siap menguji diri di panggung yang lebih besar lewat ajang Band Academy Indosiar pada 30 April. Momen ini menjadi titik krusial untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar band bentukan, melainkan kekuatan baru yang siap diperhitungkan.
Di tengah kerinduan akan kejayaan band-band Indonesia, The Morbius hadir bukan hanya sebagai alternatif—tetapi sebagai sinyal bahwa era itu belum benar-benar berakhir. (AA)



