Jakarta, Mediaberita6 - Sore itu, sambungan WhatsApp akhirnya terhubung. Dari seberang telepon terdengar suara yang hangat dan penuh semangat. Robert Santosa sedang berada di Pangandaran. Meski usianya tak lagi muda, nada bicaranya tetap berenergi.
Penulis : "Bagaimana kabarnya, Pak Robert?" saya membuka percakapan.
Robert : "Alhamdulillah baik, Mas Budi. Sehat. Mas Budi sendiri bagaimana?" jawabnya ramah.
Baik juga pak Robert jawab saya dengan senang, karena beliau terlebih dahulu yang menelepon saya saat saya ijin mewawancarainya.
Obrolan ringan itu kemudian berubah menjadi diskusi panjang yang berlangsung hampir satu jam. Tanpa diduga, Robert lebih dulu melempar pertanyaan yang membuat saya tersenyum.
Robert : "Mas Budi, mau bikin film yaa, yuk bikin film action !."
Saya spontan tertawa.
Penulis : "Wah, Pak... bikin film laga sekarang butuh dana yang tidak sedikit, dan juga sulitnya investor yang meu mendanai untuk film laga !,sekarang sedang laris horo dan komedi. kata saya sedikit pesimis.
Robert ikut tertawa.
Robert : "Betul. Membuat film action memang tidak murah. Tapi yang paling penting bukan soal mahalnya produksi. Pertanyaannya, masih adakah investor yang percaya bahwa film laga punya masa depan?"
Kalimat itu menjadi pembuka diskusi yang lebih luas. Robert tidak menampik bahwa saat ini film horor, komedi, dan drama mendominasi layar bioskop Indonesia. Namun menurutnya, kondisi tersebut bukan alasan untuk menyerah.
Robert : "Action tetap punya peluang. Tinggal bagaimana kita membaca pasar. Horor-action bisa menarik. Komedi-action juga bisa. Drama-action pun bisa berhasil. Yang menentukan bukan genrenya, tetapi kualitas cerita."
Sebagai penulis, saya menangkap optimisme yang tidak dibuat-buat. Robert tidak sedang bernostalgia dengan kejayaan masa lalu. Ia justru berbicara tentang masa depan.
Percakapan kemudian membawa saya pada pertanyaan yang sejak awal ingin saya ajukan.
Penulis : "Pak Robert, bagaimana Bapak melihat perkembangan aktor laga Indonesia sekarang? Apa yang paling berbeda dibandingkan zaman Bapak dulu?"
Suasana mendadak lebih hening. Robert memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Robert : "Saya justru bangga."
Jawaban itu cukup mengejutkan.
Robert : "Sekarang aktor laga Indonesia sudah mendunia. Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman, dan banyak aktor muda lainnya berhasil membuka jalan yang dulu mungkin hanya menjadi mimpi kami. Mereka membawa pencak silat Indonesia ke panggung internasional. Itu prestasi yang harus dihargai."
Namun, setelah menyampaikan apresiasinya, Robert memberikan catatan yang menurutnya jauh lebih penting daripada kemampuan bertarung.
"Yang saya khawatirkan bukan teknik. Teknik sekarang jauh lebih maju. Yang jangan sampai hilang adalah karakter."
Empat kata kemudian ia ucapkan dengan penekanan yang sangat jelas.
Kejujuran. Disiplin. Soul. Attitude.
"Empat hal itu yang membentuk seorang aktor."
Menurut Robert, kejujuran membuat penonton percaya kepada karakter yang dimainkan. Soul membuat adegan memiliki nyawa. Attitude menentukan apakah seseorang akan dihormati di lokasi syuting. Dan disiplin adalah fondasi yang menjaga semuanya tetap berdiri.
Ketika berbicara tentang disiplin, Robert langsung mengenang para senior yang menjadi panutannya.
Nama Barry Prima muncul pertama.
"Kalau jadwal syuting jam enam pagi, beliau biasanya sudah berada di lokasi sekitar jam lima pagi."
Robert tersenyum mengingat masa-masa itu.
"Bahkan ketika kru masih menata lampu, beliau sudah siap dengan kostum, make-up, pemanasan, dan membaca ulang adegan."
Tak lama kemudian ia menyebut satu nama lain yang juga sangat ia hormati, almarhum Advent Bangun.
"Beliau juga sama. Sangat disiplin. Menjaga kondisi fisik, menghargai waktu, dan menghormati semua orang di lokasi." Juga George Rudy Dan Fendi Pradana.
Bagi Robert, kedisiplinan para legenda itu bukan sekadar kebiasaan baik.
"Itu bentuk penghormatan kepada profesi."
Ia percaya keterlambatan seorang aktor bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga bisa menghambat pekerjaan puluhan bahkan ratusan orang yang sudah bersiap di lokasi syuting.
Di tengah perkembangan industri film Indonesia, profesi aktor laga kini juga semakin diakui sebagai profesi yang memiliki standar kompetensi. Melalui Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di bidang perfilman, kompetensi pemeran laga telah memiliki acuan yang menekankan aspek artistik, keselamatan kerja, profesionalisme, dan kemampuan teknis.
Robert menyambut perkembangan tersebut dengan penuh optimisme.
"Standar kompetensi itu penting. Sertifikasi juga penting. Tapi jangan sampai kita hanya mengejar sertifikat."
Baginya, ada hal yang tidak bisa diajarkan melalui ruang kelas.
"Kejujuran tidak bisa disertifikasi. Soul tidak bisa dicetak. Attitude tidak bisa dibeli. Itu dibangun setiap hari."
Hampir satu jam percakapan berlangsung. Menjelang telepon berakhir, saya meminta satu pesan yang ingin ia sampaikan kepada generasi baru aktor laga Indonesia.
Robert terdiam beberapa saat.
Kemudian ia menjawab dengan suara yang tenang.
"Jjangan pernah merasa paling hebat. Teruslah belajar. Datang lebih awal daripada jadwal yang ditentukan. Hormati kru, sutradara, produser, penata artistik, penata rias, penata kamera, bahkan petugas yang menyiapkan konsumsi. Film lahir dari kerja bersama."
Ia melanjutkan, "Kalau ingin bertahan lama, jangan hanya melatih tendangan dan pukulan. Latih juga kejujuranmu sebagai aktor, disiplinmu terhadap waktu, soul-mu dalam membangun karakter, dan attitude-mu sebagai manusia. Karena nama besar tidak dibangun oleh satu film, tetapi oleh kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari."
Sambungan telepon pun berakhir, tidak terasa hampir satu jam percakapan berlangsung melalui panggilan WhatsApp.
Namun satu kalimat Robert Santosa masih terus terngiang di benak saya.
"Penonton mungkin akan lupa seberapa keras pukulan seorang aktor. Tetapi mereka tidak akan pernah lupa kepada karakter yang dimainkan dengan hati."
Di tengah teknologi yang semakin canggih dan koreografi laga yang semakin spektakuler, barangkali itulah pesan yang paling relevan untuk generasi hari ini. Bahwa sehebat apa pun seorang aktor bertarung di depan kamera, yang akan membuatnya dikenang bukan hanya kemampuannya, melainkan integritas yang ia bawa dalam setiap langkah kariernya.
Kejujuran, disiplin, soul, dan attitude empat nilai sederhana yang diwariskan para legenda, dan tetap menjadi napas bagi masa depan aktor laga Indonesia.( BS)


