Surakarta, Mediaberita6 — Sepuluh tahun setelah “Kesaksian Rendra” digelar di Jakarta, jejak pemikiran dan tradisi berkesenian WS Rendra kembali dihidupkan. Kali ini, para murid, sahabat, dan komunitas seni membawa semangat sang maestro ke Solo, kota kelahirannya.
Pergelaran bertajuk “Reaktualisasi Mengolah Daya Hidup dan Daya Cipta” akan digelar di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah, Jebres, Surakarta, Senin (9/11/2026).
Konser musikalisasi puisi persembahan Yayasan Bengawan Solo Gong ini bukan sekadar pertunjukan untuk mengenang Rendra. Panggung tersebut dirancang sebagai ruang untuk menghidupkan kembali nilai, metode latihan, dan semangat kreatif yang pernah menjadi napas Bengkel Teater.
Sejumlah nama besar dijadwalkan tampil, di antaranya Iwan Burnani Toni, Sawung Jabo, Setiawan Djody, Butet Kartaredjasa, Toto Tewel, Didi Nini Thowok, Dewo, Rere Grass Rock, dan Oppi Andresta.
Turut tampil Sri Krishna Encik, Ine Arini Bastaman, Sruti Respati, Fajar Satriadi, Eep Saefulloh Fatah, Sandrina Malakiano, Baruna, Gus Oong Fathorrohman, Herman Aga, serta sejumlah seniman lainnya.
Bukan Sekadar Mengenang Rendra
Bagi Iwan Burnani Toni, salah satu penggagas sekaligus show director pertunjukan, Bengkel Teater memiliki tempat khusus dalam sejarah perkembangan seni pertunjukan Indonesia.
Ia menyebut Bengkel Teater bukan hanya ruang latihan bagi para aktor, tetapi tempat pembentukan karakter dan daya kreatif seniman lintas generasi.
“Bengkel Teater Yogyakarta dan Bengkel Teater Rendra bukan sekadar tempat latihan, melainkan rahim spiritual tempat puluhan seniman lintas generasi menempa jiwa, menyatukan ikatan batin, dan merawat api kreativitas yang tak pernah padam,” kata Iwan kepada humaniora.id di Solo, Minggu (30/8/2026).
Menurut Iwan, perjalanan Bengkel Teater setidaknya melewati dua fase penting. Pertama, Bengkel Teater Yogyakarta pada 1967–1978, periode ketika kelompok tersebut tumbuh dan melahirkan sejumlah karya penting.
Fase kedua berlangsung setelah Rendra pindah ke Jakarta pada akhir 1970-an. Tradisi tersebut kemudian berlanjut melalui Bengkel Teater Rendra, hingga kompleks Bengkel Teater berdiri di Cipayung, Depok, pada 1985.
“Perbedaan utama antara Bengkel Teater Yogyakarta dan Bengkel Teater Rendra terletak pada lokasi, fase sejarah, dan konteks pendiriannya, meskipun keduanya didirikan oleh tokoh yang sama, yaitu W.S. Rendra,” ujarnya.
Bagi Iwan, warisan terbesar Rendra bukan semata-mata karya yang ditinggalkan, melainkan cara berpikir dan cara mengolah manusia melalui seni.
“Lebih dari sebuah komunitas. Bengkel Teater adalah rumah ideologis bagi puluhan seniman yang hingga saat ini dipersatukan oleh ketajaman rasa, rasa persaudaraan yang erat, dan kesetiaan pada garis estetika WS Rendra,” katanya.
“Daya Hidup” sebagai Fondasi Kreativitas
Konsep “mengolah daya hidup dan daya cipta” menjadi benang merah dalam pertunjukan tersebut.
Iwan menjelaskan, “daya hidup” merupakan salah satu gagasan penting dalam metode latihan yang dikembangkan Rendra. Bagi sang maestro, daya hidup menjadi fondasi manusia sebelum mengembangkan daya cipta, seni, filsafat, maupun ilmu pengetahuan.
Karena itu, membawa gagasan tersebut kembali ke Solo memiliki makna simbolis yang kuat.
Rendra lahir di Solo pada 7 November 1935. Kota ini menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sebelum kemudian dikenal luas sebagai penyair, dramawan, sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah teater Indonesia.
“Solo memiliki arti penting dalam perjalanan spiritual dan kreatif Mas Willy (WS Rendra). Selain dia lahir di kota ini, menghidupkan kembali ingatan ini di Solo merupakan sebuah laku kebudayaan,” tutur Iwan.
Menyelami “Ruang Rahasia” Kreativitas Rendra
Humas dan Publikasi Pergelaran, Eddie Karsito, mengatakan pertunjukan akan dikemas melalui perpaduan musik, puisi, dan narasi sejarah.
Menurut Eddie, panggung tersebut akan mengajak penonton melihat Rendra bukan hanya sebagai sosok yang dikenang, tetapi sebagai seniman yang meninggalkan metode dan tradisi kreatif yang masih relevan hingga kini.
“Merayakan legasi sang ‘Burung Merak’. Pertunjukan musik dan puisi ini hadir mengajak kita menyelami kembali lembaran sejarah dan ruang rahasia proses kreatif Mas Willy (WS Rendra),” kata Eddie.
Pergelaran ini sekaligus menjadi momentum memperingati 91 tahun kelahiran WS Rendra, yang jatuh pada 7 November 2026.
Sepuluh Tahun Setelah “Kesaksian Rendra”
Semangat merawat ingatan terhadap Rendra sebenarnya telah dilakukan secara berkelanjutan.
Pada 9 Agustus 2016, empat komunitas seni yang terafiliasi dengan Bengkel Teater Rendra—Natural Indonesia, Teater Baling-Baling, Adiza Production, dan Sanggar Humaniora—menggelar musikalisasi puisi karya Rendra bertajuk “Kesaksian Rendra” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Pergelaran yang menjadi refleksi tujuh tahun wafatnya Rendra itu melibatkan puluhan seniman, budayawan, aktor, aktris, pejabat, birokrat, dan tokoh masyarakat.
Di antaranya Deddy Mizwar, Butet Kartaredjasa, Jockie Surjoprajogo, Sawung Jabo, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Happy Salma, Ine Febrianti, Anto Baret, Toto Tewel, Jose Rizal Manua, Dorman Borisman, dan Bambang Oeban.
Kini, satu dekade kemudian, tradisi tersebut kembali bergerak. Namun kali ini bukan Jakarta yang menjadi panggungnya, melainkan Solo—kota tempat perjalanan hidup Rendra bermula.
Eddie mengatakan pertunjukan tersebut juga menjadi bentuk penghormatan kepada para seniman yang pernah menghidupkan panggung bersama Rendra dan kini telah tiada.
“Pergelaran ini hadir sebentuk refleksi sekaligus untaian doa bagi mereka yang dulu pernah menghidupkan panggung, namun kini telah berpulang ke haribaan keabadian—di antaranya WS Rendra, Ken Zuraida, Jockie Surjoprajogo, Mbah Surip, Otig Pakis, Dorman Borisman, Diding Boneng, dan seniman lainnya,” ujar Eddie.
Dengan demikian, “Reaktualisasi Mengolah Daya Hidup dan Daya Cipta” tidak berhenti pada nostalgia. Pertunjukan ini menjadi upaya membaca kembali warisan Rendra di tengah perubahan zaman—tentang bagaimana seni, disiplin, daya hidup, dan daya cipta tetap bisa menjadi energi untuk melahirkan generasi baru. (Red)


