-->

Iklan

No Na: Perjalanan Girl Group Indonesia Yang Dibentuk 88Rising Hingga Menembus Panggung Dunia

21 Agustus 2026, 11:41 PM WIB Last Updated 2026-08-21T16:49:39Z
Foto : instagram@nonawav

No Na dan Mimpi Baru Girl Group Indonesia di Panggung Global. Kemunculan no na menjadi salah satu perkembangan paling menarik dalam perjalanan musik pop Indonesia menuju pasar internasional. Bukan sekadar grup vokal perempuan baru, kuartet yang terdiri dari Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine, dan Shazfa Adesya ini dibentuk dan dikembangkan oleh 88rising—perusahaan musik dan media berbasis Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun dikenal membawa talenta Asia ke audiens global.


88rising memperkenalkan no na secara resmi pada 29 April 2025 melalui video pengenalan bertajuk we are here. Debut mereka kemudian ditetapkan pada 2 Mei 2025 melalui single “Shoot”.

Yang membuat proyek ini berbeda adalah identitas Indonesianya tidak ditempatkan sekadar sebagai ornamen. Sejak awal, no na membawa unsur Indonesia ke dalam musik, visual, koreografi, hingga cara mereka mendefinisikan diri sebagai perempuan muda dari Indonesia yang ingin berbicara kepada dunia.

Nama no na sendiri diambil dari kata Indonesia “nona”, sebuah sebutan untuk perempuan muda. Penulisan nama grup dengan huruf kecil menjadi bagian dari identitas visual mereka.


Berawal dari Pencarian Bakat, Bukan Ajang Pencarian Girl Group

Di balik debut yang terlihat cepat, perjalanan no na sebenarnya berlangsung selama bertahun-tahun.

Menurut wawancara para personel, proses artist development mereka memakan waktu sekitar dua setengah tahun, sejak tahap scouting hingga debut pada 2025. Tiga anggota terlebih dahulu masuk dalam proses awal pada akhir 2022, kemudian pengembangan resmi dimulai di Jakarta pada 2023. Esther Geraldine bergabung dalam fase tersebut.


Kisahnya juga tidak dimulai dari sebuah program reality show seperti yang lazim digunakan dalam pembentukan grup pop internasional. Para anggota ditemukan melalui bakat yang sudah mereka miliki sebelumnya.

Christy Gardena memiliki latar belakang tari, termasuk ballet dan Latin dance. Baila Fauri sudah dikenal publik setelah mengikuti Indonesian Idol Junior dan kemudian menjalani karier sebagai penyanyi solo. Esther Geraldine pernah menjadi peserta Indonesian Idol, sementara Shazfa Adesya mempunyai pengalaman di dunia dance cover dan pernah aktif dalam komunitas K-pop dance ketika berada di Australia.


Christy, Baila dan Shazfa kemudian dipertemukan dalam proses pengembangan proyek 88rising. Mereka pertama kali bertemu dalam konteks Head in the Clouds Jakarta 2022. Sekitar enam bulan kemudian, Esther masuk ke dalam formasi.

Foto : instagram@nonawav


Setelah menjalani pengembangan di Jakarta, mereka kemudian pindah ke Los Angeles pada 2024 untuk melanjutkan proses artist development sebelum akhirnya diperkenalkan sebagai no na.


Baila menggambarkan transisi tersebut sebagai pengalaman yang tidak sederhana. Sebelum menjadi bagian dari grup, ia terbiasa bekerja sebagai artis solo. Dalam wawancara dengan NME, ia mengakui bahwa harus bekerja sebagai bagian dari tim merupakan perubahan besar.

“It was super hard for me to switch from being able to work alone to having to work with other people.”


Namun proses tersebut justru membuat hubungan keempat anggota semakin kuat. Baila bahkan mengatakan bahwa kini ia tidak dapat membayangkan dirinya tampil sendirian seperti sebelumnya.


Empat Perempuan dengan Latar Belakang Berbeda

No Na terdiri atas empat anggota dengan pengalaman yang relatif berbeda, sebuah kombinasi yang kemudian menjadi salah satu kekuatan grup.


Baila Fauri

Baila merupakan salah satu anggota yang sudah lebih dahulu memiliki pengalaman sebagai penyanyi. Ia dikenal publik sejak mengikuti Indonesian Idol Junior dan berhasil mencapai babak enam besar. Setelah itu, Baila mengembangkan kariernya melalui musik solo dan berbagai proyek musik.

Pengalaman tersebut membuat Baila memiliki fondasi vokal dan pengalaman panggung yang cukup panjang sebelum bergabung dengan no na.


Christy Gardena

Christy memiliki latar belakang kuat dalam tari. Ia pernah menjalani pelatihan ballet dan berbagai jenis dance sejak usia muda.

Menariknya, kemampuan vokalnya justru berkembang secara signifikan selama proses artist development no na.


Dalam wawancara NME, Christy menyebut fase tersebut sebagai salah satu periode paling sulit dalam hidupnya karena ia merasa memulai kemampuan bernyanyi dari nol.

“I started singing from zero. But now I’ve found my voice because of the training.”

Ia kemudian menegaskan bahwa perkembangan itu juga tidak lepas dari dukungan ketiga anggota lainnya.


Esther Geraldine

Esther mempunyai pengalaman sebagai penyanyi sebelum masuk no na. Ia pernah mengikuti Indonesian Idol dan telah mengenal dunia rekaman sejak usia muda.


Di dalam no na, Esther terlihat memiliki karakter vokal sekaligus kemampuan komunikasi yang kuat. Dalam sebuah wawancara, Baila bahkan bercanda menyebut Esther sebagai “frontwoman”, meskipun Esther menanggapinya dengan humor bahwa sisi tersebut hanya muncul ketika sedang bekerja.


Shazfa Adesya

Shazfa memiliki latar belakang dance dan budaya K-pop. Pengalamannya dalam komunitas dance membantu membentuk kemampuan performanya.

Ia juga memiliki peran penting dalam perjalanan terbentuknya formasi akhir no na karena Esther bergabung setelah direkomendasikan Shazfa.


Training Hampir Setiap Hari di Jakarta hingga Los Angeles

Sebelum dikenal publik, keempatnya harus melewati proses panjang untuk menemukan warna musik dan identitas grup.

Dalam wawancara dengan Cosmopolitan Indonesia, para anggota menjelaskan bahwa mereka menjalani latihan hampir setiap hari, bergantian antara kelas vokal dan dance.

Tujuan pelatihan tersebut bukan semata-mata membuat mereka menjadi penyanyi dan penari yang seragam. Mereka justru diarahkan untuk menemukan karakter suara masing-masing sekaligus mencari gaya yang paling cocok sebagai sebuah grup.

Shazfa menjelaskan bahwa prosesnya bukan hanya latihan teknis, tetapi juga eksplorasi.

“We explored a lot of genres here and there.”

Sementara Baila menyebut fase artist development mereka berlangsung sekitar dua hingga tiga tahun, dengan periode pengembangan di Jakarta dan Los Angeles.

Pendekatan tersebut penting karena no na sejak awal tidak dibangun sebagai grup yang hanya mengandalkan satu karakter vokal atau satu kemampuan tertentu. Keempatnya dikembangkan sebagai performer yang dapat bernyanyi, menari dan tampil secara utuh.


Mengapa No Na Memilih R&B?

Salah satu ciri khas no na adalah perpaduan pop dan R&B dengan nuansa nostalgia musik R&B era 1990-an hingga awal 2000-an.

Pilihan tersebut bukan keputusan yang dibuat semata-mata untuk mengikuti pasar.


Esther menjelaskan bahwa mereka memang tumbuh dengan musik R&B. Dalam masa artist development, mereka banyak mempelajari artis seperti TLC dan Ciara.

Baila bahkan memberikan jawaban yang cukup sederhana ketika ditanya mengapa mereka memilih R&B.

“It’s just in our blood.”


Karakter tersebut terdengar jelas pada “Shoot”, single debut yang mengandalkan harmoni vokal, groove pop-R&B dan koreografi yang kuat.


“Shoot”: Debut yang Langsung Memperkenalkan Identitas Indonesia

Pada 2 Mei 2025, no na resmi debut melalui “Shoot”.

Lagu ini menjadi pernyataan awal mengenai siapa mereka: grup perempuan Indonesia dengan orientasi global, tetapi tidak meninggalkan akar budaya asalnya.


Video musik “Shoot” memperlihatkan sejumlah elemen visual Indonesia, termasuk lanskap Bali. Musiknya juga memasukkan nuansa gamelan yang kemudian menjadi salah satu elemen penting dalam identitas no na.

Keputusan tersebut cukup strategis.

Alih-alih mencoba menyembunyikan asal mereka demi menyesuaikan diri dengan pasar Amerika atau global, no na justru melakukan sebaliknya: membuat identitas Indonesia menjadi bagian dari daya jual internasional mereka.


Esther mengatakan bahwa mereka selalu berusaha memasukkan elemen Indonesia dalam karya yang mereka buat.

“We always strive to put some sort of Indonesian element into everything we do.”

Menurutnya, hal itu dapat hadir melalui musik, tari, pakaian maupun cara mereka merepresentasikan diri. Ia juga menegaskan bahwa mereka ingin lebih banyak orang mengenal Indonesia dan para kreator Indonesia.


Dari “Superstitious” hingga EP Orchids (Lullabies)

Setelah “Shoot”, no na melanjutkan perjalanan musik mereka melalui sejumlah rilisan seperti “Superstitious” dan “Falling in Love”.

Pada 10 Juli 2025, mereka merilis extended play perdana bertajuk Orchids (Lullabies). EP tersebut memperlihatkan sisi lain dari masing-masing anggota dan memperluas spektrum musik yang mereka tawarkan.

Periode tersebut juga menjadi fase penting bagi no na untuk memperkenalkan diri bukan hanya sebagai proyek baru 88rising, tetapi sebagai grup dengan identitas artistik sendiri.


Dari Indonesia ke Panggung Head in the Clouds

Salah satu pencapaian penting no na datang tidak lama setelah debut.

Pada 31 Mei 2025, mereka tampil di festival Head in the Clouds di Los Angeles, festival yang diselenggarakan oleh 88rising dan menjadi salah satu panggung penting bagi artis-artis Asia dalam jaringan perusahaan tersebut.

Foto : instagram@nonawav

Tidak berhenti di Los Angeles, perjalanan panggung internasional mereka berlanjut hingga Head in the Clouds Tokyo.

Kehadiran mereka di festival tersebut memperlihatkan bahwa strategi 88rising tidak hanya menjadikan no na sebagai proyek untuk pasar Indonesia. Mereka sejak awal diarahkan untuk masuk ke ekosistem musik global.



“Work”: Membuktikan No Na Bukan Sekadar Girl Group R&B

Memasuki 2026, no na menunjukkan sisi yang lebih agresif melalui single “Work”.

Lagu tersebut menjadi perubahan arah dibandingkan nuansa nostalgia R&B yang sebelumnya dominan.

Dalam wawancara NME, Esther mengatakan perubahan itu membuat publik menyadari bahwa mereka tidak hanya mampu bernyanyi.

“We’ve always wanted to be known as versatile artists, and ‘Work’ is basically that.”


Video “Work” juga menjadi perhatian karena menonjolkan kemampuan dance para anggota, termasuk aksi fleksibilitas Christy yang menjadi pembuka video.

Bagi no na, perubahan tersebut merupakan bagian dari usaha untuk menunjukkan bahwa mereka tidak ingin dikunci dalam satu genre.


“Rollerblade”: Ketika Bahasa Indonesia Masuk Lebih Jauh

Salah satu langkah paling menarik dalam perkembangan no na terjadi pada April 2026 melalui “Rollerblade”.

Jika karya-karya sebelumnya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dengan sentuhan budaya Indonesia, “Rollerblade” mengambil langkah lebih jauh dengan memasukkan bahasa Indonesia secara lebih dominan, sekaligus menampilkan unsur gamelan.


Pilihan ini penting secara artistik.

Untuk sebuah grup yang dibangun dengan orientasi global, penggunaan bahasa Indonesia secara lebih terbuka menunjukkan bahwa mereka tidak melihat bahasa lokal sebagai penghalang untuk masuk ke pasar dunia.

Sebaliknya, bahasa tersebut justru menjadi identitas.

“Rollerblade” bahkan berhasil memperoleh respons positif di Indonesia. Pada Juni 2026, lagu tersebut sempat menempati posisi pertama Top 20 Internasional RRI Pro2 Banjarmasin.


Identitas “Island Girl” yang Mereka Bangun

No na memiliki istilah sendiri untuk menggambarkan estetika dan identitas mereka: “island girl.”

Konsep tersebut lahir dari diskusi antara para anggota dan tim 88rising.

Esther menjelaskan bahwa ketika mereka menyampaikan konsep “island”, pihak 88rising merespons positif. Mereka kemudian mencari titik temu antara keinginan grup dan visi label.

Shazfa mengatakan bahwa sebelum debut mereka sempat mencoba berbagai konsep melalui sejumlah sesi pemotretan. Namun akhirnya mereka merasa konsep “island girl” adalah sesuatu yang paling menggambarkan diri mereka.

Foto : instagram@nonawav

Konsep itu bukan hanya soal pantai atau pakaian tropis.

Bagi no na, “island girl” berkaitan dengan pengalaman mereka sebagai perempuan Indonesia—tentang budaya, lingkungan tempat mereka tumbuh, energi muda, persahabatan dan cara mereka melihat dunia.


Representasi Indonesia Tanpa Menjadi Sekadar “Produk Budaya”

Di sinilah posisi no na menjadi menarik. Banyak proyek musik internasional menggunakan elemen budaya lokal sebagai aksesoris visual. No na mencoba mengambil pendekatan berbeda dengan memasukkan budaya Indonesia ke dalam DNA musik mereka.


Gamelan, bahasa Indonesia, lanskap Bali dan unsur lokal lainnya muncul dalam karya-karya mereka, tetapi tetap dipadukan dengan struktur pop modern dan R&B.

Shazfa mengatakan bahwa representasi Indonesia menjadi sesuatu yang mereka pegang kuat.

“It always goes back to the reason why we’re here.”

Menurutnya, keberadaan mereka di panggung global sekaligus membawa tanggung jawab untuk merepresentasikan negara asal mereka.


No Na dan Makna Sisterhood

Di luar musik, hubungan antarpersonel menjadi salah satu aspek yang paling sering muncul dalam wawancara mereka.

Esther mengatakan bahwa sejak awal mereka merasa memiliki sesuatu yang spesial ketika bersama.

“We just complete each other.”

Ia menilai mereka lebih kuat sebagai sebuah kelompok dibandingkan jika harus berjalan sendiri-sendiri.

Sementara Shazfa ketika berbicara mengenai feminitas dan perempuan menyebut konsep tersebut berkaitan dengan sisterhood.

Baila menambahkan gagasan tentang menjadi “girl’s girl”—perempuan yang saling mendukung perempuan lain.

Bagi mereka, konsep perempuan tidak berhenti pada penampilan. Ia berkaitan dengan kepercayaan diri, energi, kekuatan, persahabatan dan keberanian untuk bekerja keras.


Dari Pendatang Baru Menjadi Nama yang Diperhitungkan

Perkembangan no na berlangsung cukup cepat. Dalam waktu sekitar satu tahun sejak debut, mereka telah tampil di berbagai panggung internasional, mendapatkan perhatian media musik global dan masuk dalam NME 100: Essential Emerging Artists for 2026. NME juga mencatat mereka sebagai salah satu grup yang berada di garis depan gelombang baru girl group dari Asia Tenggara.

Tatler Asia mencatat bahwa “Shoot” berhasil masuk tiga besar Spotify Viral 50 di Korea Selatan, sementara tiga lagu no na secara bersamaan sempat masuk dalam tangga lagu tersebut. Publikasi itu juga menyebut mereka telah membangun basis pendengar internasional yang signifikan.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa no na bukan hanya mendapatkan perhatian karena statusnya sebagai “girl group Indonesia pertama” di bawah 88rising. Musik mereka sendiri mulai menjadi alasan utama audiens internasional mengenal mereka.


Panggung Head in the Clouds 2026 dan Langkah yang Makin Berani

Pada 2026, no na kembali tampil di Head in the Clouds Los Angeles, salah satu panggung yang sangat penting dalam ekosistem 88rising.

Dalam penampilan tersebut, mereka kembali menempatkan identitas Indonesia di depan. Mereka membawakan materi yang berkaitan dengan perkembangan terbaru musik mereka, termasuk eksplorasi budaya Jawa dan elemen tradisional yang dipadukan dengan pertunjukan pop modern.

Penampilan ini menjadi gambaran bagaimana arah no na berkembang: semakin percaya diri menggabungkan musik populer internasional dengan referensi budaya Indonesia.


Mereka tidak lagi hanya memperkenalkan diri sebagai “girl group dari Indonesia”, tetapi mulai membangun bahasa artistik yang dapat dikenali sebagai milik mereka sendiri.


Apa yang Membuat No Na Berbeda?

Ada beberapa hal yang membuat perjalanan no na patut diperhatikan.

Pertama, mereka bukan grup yang dibentuk melalui kompetisi televisi. Keempat anggota ditemukan melalui latar belakang dan kemampuan masing-masing, kemudian menjalani proses artist development yang panjang.

Kedua, mereka tidak sepenuhnya mengadopsi formula K-pop. Walaupun kemampuan dance, visual dan performa mereka memiliki standar pop global, karakter musik mereka lebih berakar pada R&B dan pop.

Ketiga, mereka membawa identitas Indonesia secara sadar. Bahasa Indonesia, gamelan dan unsur budaya lokal bukan sekadar hiasan.


Keempat, seluruh anggota datang dengan pengalaman hidup sebelum proyek no na. Esther dan Baila sudah mempunyai pengalaman di industri musik, sementara Christy dan Shazfa membawa kekuatan dari dunia tari. Menurut Esther, kondisi tersebut membuat mereka sudah memiliki kepribadian masing-masing ketika 88rising merekrut mereka.

Hal tersebut menjadi penting karena no na bukan sekadar kelompok yang dipaksa menciptakan chemistry di depan kamera. Mereka tumbuh bersama melalui proses panjang.


Tantangan Berikutnya: Menjaga Identitas di Tengah Pasar Global

Keberhasilan awal tentu membawa tantangan baru.

Pasar musik global sangat kompetitif. Girl group dari Korea Selatan, Jepang, Filipina, Thailand dan berbagai negara lain terus bermunculan. No na harus menemukan cara untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitas yang membuat mereka berbeda.

Menariknya, para anggota sendiri tidak terlihat ingin terburu-buru.

Ketika NME menanyakan apakah mereka menyangka bisa berkembang secepat itu, Baila mengakui bahwa pencapaian tersebut merupakan kejutan.

“This is all a surprise to us.”

Shazfa menambahkan bahwa mereka bahkan tidak menyangka perkembangan tersebut terjadi secepat itu.

Baila kemudian menyampaikan pesan sederhana kepada pendengar mereka:

“Don’t get tired of us. We promise there’s more.”

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi sekaligus menunjukkan ambisi mereka untuk terus berkembang.


No Na dan Babak Baru Musik Indonesia

Kemunculan no na menandai babak baru dalam perjalanan musisi Indonesia ke pasar internasional.

Sebelum mereka, 88rising telah membantu membawa nama seperti Rich Brian dan NIKI ke audiens global. Namun no na menghadirkan format yang berbeda: sebuah girl group Indonesia yang sejak awal dirancang sebagai proyek global.

Karena itu, perjalanan no na layak dilihat lebih luas daripada sekadar perjalanan empat penyanyi muda menuju popularitas.


Mereka merupakan eksperimen penting tentang bagaimana identitas lokal dapat dikemas dalam musik pop global tanpa harus kehilangan keaslian.

Dari Jakarta, Bali dan Lombok menuju Los Angeles, kemudian tampil di panggung internasional, perjalanan Baila, Christy, Esther dan Shazfa menunjukkan bahwa globalisasi musik tidak selalu berarti meninggalkan akar.

Justru sebaliknya.

No na sedang membuktikan bahwa menjadi Indonesia dapat menjadi bagian dari alasan mengapa sebuah grup bisa diterima dunia.

Dan jika perjalanan mereka selama kurang lebih satu tahun pertama adalah indikatornya, kisah no na masih berada di bagian awal—bukan pada puncaknya.




Profil Singkat No Na

Nama: no na
Asal: Indonesia
Anggota: Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine, Shazfa Adesya
Label: 88rising
Genre: Pop, R&B
Debut: 2 Mei 2025
Single debut: “Shoot”
EP debut: Orchids (Lullabies)
Single 2026: “Work”, “Rollerblade”
Basis pengembangan: Jakarta dan Los Angeles
Identitas utama: Pop/R&B dengan pengaruh Indonesia dan konsep “island girl”


Foto : instagram@nonawav

No na bukan lahir dalam semalam. Di balik debut yang terlihat mendadak pada Mei 2025, terdapat proses scouting, pelatihan, eksplorasi musik, perpindahan negara dan pembangunan chemistry selama sekitar dua setengah tahun.


Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine dan Shazfa Adesya datang dari jalur yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu proyek yang memiliki tujuan besar: membangun girl group Indonesia dengan daya jangkau dunia.


Kini, setelah “Shoot”, Orchids (Lullabies), “Work”, “Rollerblade”, berbagai panggung Head in the Clouds dan pengakuan media musik internasional, no na mulai memiliki ruangnya sendiri.


Mereka tidak datang untuk menjadi versi lain dari girl group negara lain.

Mereka datang sebagai no na—empat perempuan Indonesia yang ingin membawa suara, energi dan identitas Indonesia ke panggung dunia. (Penulis : Ricky - Editor : Go.Ens)

Komentar

Tampilkan

Terkini