-->

Iklan

IMVA 2026–2027 Diluncurkan, Oleg Sanchabakhtiar Ingin Musik Video Indonesia Punya “Rumah” dan Menembus Dunia

Ali Amran
28 Agustus 2026, 7:38 AM WIB Last Updated 2026-08-28T00:38:09Z



Jakarta, Mediaberita6 — Industri musik video Indonesia memasuki babak baru. Tidak sekadar menjadi pelengkap sebuah lagu, musik video kini berkembang menjadi karya visual yang memiliki kekuatan artistik, storytelling, serta melibatkan banyak profesi kreatif.


Melihat perkembangan tersebut, Creative Director sekaligus Founder Indonesian Music Video Awards (IMVA), Oleg Sanchabakhtiar, meluncurkan program Indonesian Music Video Awards (IMVA) 2026–2027. Peluncuran ditandai dengan diskusi bersama awak media di CC Cafe, Jalan Ampera Raya No. 42, Jakarta Selatan, Sabtu.


IMVA dirancang sebagai wadah apresiasi sekaligus pengembangan ekosistem bagi para kreator di balik musik video Indonesia. Bukan hanya penyanyi atau musisi, penghargaan ini juga menyasar sutradara, director of photography (DOP), editor, penata cahaya, art director, stylist hingga berbagai profesi visual lainnya.


Dalam diskusi tersebut, Oleg bersama fotografer senior Firdaus Fadil dan Dion Momongan membahas berbagai perkembangan industri musik video, tantangan penggunaan kecerdasan buatan atau AI, serta pentingnya membangun ruang kreatif yang sehat bagi generasi muda.


Musik Video Indonesia Butuh “Rumah”

Menurut Oleg, selama ini industri film memiliki Festival Film Indonesia (FFI) dengan Piala Citra, sementara industri musik memiliki Anugerah Musik Indonesia (AMI). Namun, musik video belum mempunyai wadah penghargaan yang secara khusus dan berkelanjutan memberikan apresiasi terhadap karya maupun profesi di baliknya.


“Film punya Festival Film Indonesia (FFI) dengan Piala Citra, musik punya Anugerah Musik Indonesia (AMI), tetapi musik video belum memiliki rumah yang kuat. Karena itu IMVA kami hadirkan sebagai ruang apresiasi sekaligus pengembangan industri,” ujar Oleg.

 

Ia melihat perubahan perilaku masyarakat dalam menikmati musik turut membuat posisi musik video semakin penting. Saat ini, sebuah lagu tidak hanya didengarkan, tetapi juga dikonsumsi melalui visual yang menyertainya.


“Sekarang orang mendengar lagu sambil melihat visualnya. Musik video bukan lagi pelengkap, tetapi sudah menjadi bagian utama dari karya musik itu sendiri,” katanya.

 

IMVA 2026–2027 menjadi bagian dari rangkaian program Cita Svara Indonesia (CSI), sebuah kolaborasi lintas profesi di bidang musik dan industri kreatif.


Sejumlah kegiatan pendukung juga disiapkan mulai September hingga Oktober 2026, antara lain workshop, kelas kreatif, serta forum kolaborasi yang mempertemukan para pelaku industri dan generasi muda.


Kurasi Bulanan, Menuju Piala Swaradrisya 2027

Salah satu hal yang membedakan IMVA dengan ajang penghargaan musik pada umumnya adalah sistem kurasi yang dilakukan secara bulanan.


Karya video musik yang telah dirilis sejak September 2002 dan tayang di platform YouTube dapat didaftarkan secara online melalui situs resmi IMVA. Karya-karya yang terpilih setiap bulan nantinya akan dikumpulkan untuk mengikuti tahapan menuju Grand Final Piala Swaradrisya 2027.


Menariknya, proses penjurian tidak semata-mata menilai musik video sebagai sebuah karya utuh. IMVA juga memberikan perhatian terhadap kontribusi masing-masing profesi kreatif.

“Penjurian tidak harus melihat video sebagai satu kesatuan saja. Kami mengkurasi berdasarkan peran DOP, editor, stylist, art director, dan profesi kreatif lainnya,” jelas Oleg.

 

Dengan pendekatan tersebut, IMVA ingin memastikan bahwa para pekerja kreatif di balik layar juga mendapatkan pengakuan atas kontribusi mereka.




AI Boleh Digunakan, Tetapi Kreator Tak Boleh Kehilangan “Rasa”

Perkembangan teknologi AI menjadi salah satu isu penting dalam diskusi. IMVA tidak menutup pintu terhadap penggunaan AI dalam proses produksi musik video. Namun, kreativitas manusia dan transparansi proses tetap menjadi perhatian utama.


Oleg mengatakan, peserta yang menggunakan AI dalam karyanya harus menjelaskan proses kreatif yang dilakukan, termasuk mencantumkan prompt yang digunakan.


“Untuk karya berbasis AI, peserta wajib melampirkan prompt yang digunakan, karena itu bagian dari proses directing,” ujarnya.

 

Standar penilaian IMVA akan mencakup sejumlah aspek, mulai dari artistik, sinematografi, kreativitas, storytelling hingga pemanfaatan teknologi AI secara etis.


Bagi Oleg, kehadiran AI seharusnya tidak membuat manusia kehilangan identitas kreatifnya.

“AI memudahkan, tetapi jangan sampai kita kehilangan rasa, kehilangan jiwa, dan menyerahkan sepenuhnya proses kreatif kepada AI,” tegasnya.

 

Pandangan senada disampaikan Firdaus Fadil. Menurutnya, perkembangan AI merupakan bagian dari perubahan teknologi yang tidak mungkin dihindari. Ia mengibaratkan situasi tersebut seperti perubahan dunia fotografi dari era analog menuju digital.

“AI akan mempermudah fotografer dan kreator. Tinggal bagaimana kita menyikapinya secara bijaksana,” kata Firdaus.

 

Sementara Dion Momongan mengingatkan generasi muda agar tidak hanya mengejar kecanggihan teknologi, tetapi tetap menghadirkan sentuhan personal dalam setiap karya.

“Ruang untuk berkarya sangat luas. Gunakan AI sebijaksana mungkin, tetapi rasa dan kreativitas manusialah yang harus tetap berada di depan,” ujarnya.

 

Mendorong Kreator Muda Berani Menentukan Karakter

Oleg menilai generasi muda saat ini sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Media sosial dan berbagai platform digital menyediakan akses terhadap referensi, tutorial, serta karya dari berbagai belahan dunia.


Tantangannya, kata dia, bukan lagi soal keterbatasan referensi, melainkan bagaimana seorang kreator menemukan karakter dan arah karyanya sendiri.

“Sekarang sudah ada contoh, referensi, dan akses belajar. Tinggal pilih arah karya yang sesuai dengan mata hati dan karakter masing-masing,” katanya.

 

IMVA pun diharapkan tidak berhenti sebagai ajang pemberian penghargaan. Lebih jauh, platform ini ingin menjadi ruang belajar, bertukar gagasan, berjejaring, dan membuka peluang kolaborasi bagi para kreator musik video Indonesia.


Dari Indonesia untuk Panggung Internasional

Untuk menjaga kualitas penjurian, IMVA melibatkan dewan juri dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi musik, kreator visual, akademisi, profesional hukum, ekonom hingga perwakilan penonton dari berbagai kelompok usia.


Keragaman perspektif tersebut diharapkan mampu menghasilkan penilaian yang lebih komprehensif sekaligus membuka peluang bagi karya Indonesia untuk dikenal di luar negeri.


Oleg mengatakan salah satu visi besar IMVA adalah mempersiapkan karya musik video Indonesia agar mampu mengikuti standar festival internasional.

“Kami ingin karya-karya terbaik Indonesia dapat disiapkan sesuai karakter dan persyaratan festival internasional, sehingga memiliki kesempatan bersaing di level global,” ujarnya.

 

Dengan peluncuran IMVA 2026–2027, Oleg berharap musik video tidak lagi dipandang sekadar sebagai materi promosi lagu. Di balik sebuah video musik terdapat kerja kolektif dari banyak kreator yang memiliki gagasan, keahlian dan karakter masing-masing.


IMVA ingin menjadikan seluruh proses tersebut sebagai bagian dari ekosistem kreatif yang layak diapresiasi—sekaligus membawa karya visual musik Indonesia menuju panggung yang lebih luas.


Informasi lengkap mengenai Indonesian Music Video Awards (IMVA) dapat diakses melalui www.indonesianmusicvideoawards.com. (AA)

#imva_official 

#imva #indonesianmusicvideoawards 

#PialaSwaradrisya 

#planetdesignindonesia 

#olegscbtrseries 

#citasvaraindonesia 

#csi


Komentar

Tampilkan

Terkini