-->

Iklan

Workshop penulisan Cerpen Palestina, Membuka Jalan Menuju ISSA-Palestine 2026

Ali Amran
20 Agustus 2026, 10:44 PM WIB Last Updated 2026-08-20T15:59:47Z

Jakarta, Mediaberita6 - Sastra kembali menunjukkan perannya sebagai ruang untuk menyuarakan kemanusiaan. Semangat tersebut terasa dalam Workshop Penulisan Cerpen Palestina yang digelar di Gedung MUI Lantai 4, Jalan Proklamasi, Jakarta, Kamis (20/8/2026), mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.


Workshop ini menjadi bagian awal menuju International Short Story Award on Palestine (ISSA-Palestine) 2026, sayembara penulisan cerpen tingkat internasional yang digagas Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (LSBPI-MUI) dengan tema “Palestina: Kemanusiaan, Keimanan, dan Kemerdekaan.


Menghadirkan Dr. phil. Habiburrahman El Shirazy, L.C., M.A. dan Dr. Helvy Tiana Rosa, S.S., M.Hum., selaku Ketua Sayembara ISSA-Palestine 2026. Keduanya menyampaikan materi kepenulisan dengan pendekatan yang komunikatif, santai, sekaligus memberikan dorongan kepada peserta untuk berani mengolah isu Palestina menjadi karya sastra yang kuat dan menyentuh.


Antusiasme terhadap kegiatan ini terlihat dari jumlah peserta yang mencapai sekitar 200 orang, baik yang hadir secara langsung maupun mengikuti secara daring. Mereka datang dari berbagai latar belakang, antara lain masyarakat umum, pelajar, guru, penulis, penulis skenario, wartawan, hingga peserta penyandang disabilitas netra.


Sekitar 70 peserta mengikuti workshop secara luring dan sisanya daring, menunjukkan bahwa isu Palestina dan sastra mampu menjangkau masyarakat lintas daerah melalui ruang digital.


Peserta penyandang disabilitas netra, yang  turut hadir dan menunjukkan ketertarikannya terhadap dunia penulisan. Kehadirannya menjadi gambaran bahwa sastra dapat menjadi ruang yang terbuka dan inklusif bagi siapa saja untuk berkarya, menyampaikan pengalaman, serta menyuarakan gagasan.


Pelajar Bertemu Penulis Idola

Semangat mengikuti workshop juga terlihat dari para pelajar SMK Pusaka Nusantara Bekasi yang hadir dalam kegiatan tersebut.


Bagi para pelajar, pertemuan ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan tentang teknik menulis cerpen, tetapi juga pengalaman berharga karena mereka dapat bertemu langsung dengan sastrawan dan penulis yang selama ini mereka idolakan.


Materi yang diberikan secara gratis menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal dunia sastra secara lebih dekat. Mereka tidak hanya diajak menjadi pembaca, tetapi juga didorong untuk berani menulis dan menghasilkan karya sendiri.


Palestina dari Perspektif Kemanusiaan

Dr. Helvy Tiana Rosa, selaku Ketua Sayembara ISSA-Palestine 2026, menjelaskan bahwa penulis memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan gagasannya.


LSBPI-MUI memberikan kebebasan kepada peserta untuk menentukan sudut pandang, karakter, alur, maupun fokus cerita. Yang menjadi benang merah adalah tiga nilai utama yang diusung ISSA-Palestine, yaitu kemanusiaan, keimanan, dan kemerdekaan.


Dengan demikian, Palestina tidak harus selalu hadir dalam cerita melalui perspektif politik atau konflik semata. Palestina dapat diceritakan melalui pengalaman manusia: keluarga yang kehilangan, anak-anak yang tumbuh dalam ketidakpastian, keteguhan seorang ibu, persahabatan, harapan, perjuangan mempertahankan kehidupan, maupun pengalaman spiritual.


Cerita juga dapat menggambarkan kehidupan masyarakat Palestina yang beragam, termasuk warga Muslim dan Kristen yang hidup berdampingan serta saling menjaga.


Pendekatan tersebut menjadikan sastra sebagai medium untuk melihat Palestina bukan hanya sebagai sebuah persoalan geopolitik, tetapi sebagai kisah tentang manusia, kehidupan, kehilangan, iman, harapan, dan cita-cita akan kemerdekaan.


Dari Workshop Menuju Panggung Sastra Dunia

ISSA-Palestine 2026 dirancang bukan sekadar sebagai sebuah kompetisi menulis, tetapi sebagai upaya mempertemukan penulis dari berbagai negara melalui karya sastra.


Untuk memperluas jangkauan pembaca, LSBPI-MUI juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk penerbit dan mitra lainnya. Karya-karya terpilih direncanakan hadir dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia/Melayu, Inggris, dan Arab, sehingga cerita tentang Palestina dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.


Kolaborasi juga terbuka bagi komunitas, lembaga pendidikan, penerbit, media massa, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap sastra dan kemanusiaan.


Dari Pena Menjadi Suara Kemanusiaan

Workshop Penulisan Cerpen Palestina di Gedung MUI akhirnya tidak berhenti sebagai kegiatan belajar menulis. Ia menjadi ruang perjumpaan antara sastrawan, pelajar, guru, penulis, wartawan, masyarakat umum, dan komunitas disabilitas.


Dari ruang sederhana tempat para peserta belajar menyusun cerita, terbuka sebuah perjalanan menuju panggung sastra internasional.


Dari pena lahir cerita. Dari cerita tumbuh empati. Dari empati lahir kepedulian. Dan dari kepedulian, suara kemanusiaan Indonesia untuk Palestina dapat menjangkau dunia melalui sastra.


ISSA-Palestine 2026 pun dimulai dengan cerita, dengan kemanusiaan, dan dengan harapan. (Aa) 

Komentar

Tampilkan

Terkini