-->

Iklan

Festival Film Horor IX Bedah Sinkretisme, Budaya, dan Masa Depan Horor Indonesia

Ali Amran
19 September 2026, 4:22 PM WIB Last Updated 2026-09-19T09:22:42Z

 


Jakarta, Mediaberita6 – Film horor Indonesia tidak lagi sekadar bicara soal hantu, kerasukan, atau adegan yang membuat penonton bergidik. Di balik teror yang disajikan, terdapat persinggungan antara mitos, budaya, spiritualitas, sejarah, hingga strategi industri perfilman.


Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Festival Film Horor (FFHoror) IX yang digelar di JTown Food & Entertainment Center, Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, 28 September 2026.


Mengangkat tema “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia”, diskusi menghadirkan praktisi perfilman, produser sekaligus penulis skenario Budi Sumarno dan sutradara Hasto Broto sebagai narasumber. Diskusi dipandu jurnalis senior sekaligus pengamat film Didang Prajasasmita.


Rangkaian acara diawali penampilan grup musik 7Dunia yang membawakan tiga lagu. Penampilan tersebut sukses mencairkan suasana sekaligus membangun atmosfer meriah khas Festival Film Horor.


Horor Indonesia dan Kekuatan Sinkretisme

Dalam paparannya, Budi Sumarno mengatakan perjalanan film horor Indonesia memiliki akar yang panjang. Cerita rakyat, ritual, kepercayaan masyarakat, hingga berbagai pertunjukan tradisional menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian berkembang menjadi pengalaman sinematik.


Menurut Budi, salah satu kekuatan utama horor Indonesia terletak pada sinkretisme, yakni pertemuan berbagai unsur budaya, tradisi, kepercayaan lokal, dan agama yang kemudian melahirkan makna baru dalam sebuah cerita.


Mitos Nusantara, kata dia, tidak sekadar dipindahkan mentah-mentah ke layar lebar. Para penulis skenario dan sutradara mengolahnya menjadi konflik yang mempertemukan tradisi, mitos lokal, kehidupan modern, serta unsur keagamaan.


“Dalam konteks Indonesia yang sangat beragam, film horor bisa menjadi medium untuk memperkenalkan sejarah, tradisi leluhur, tempat-tempat keramat, hingga praktik ritual yang masih hidup di tengah masyarakat,” ujar Budi.


Menurutnya, penonton pada dasarnya tidak hanya datang untuk merasakan ketakutan. Ada rasa penasaran yang membuat mereka mengikuti sebuah film, mulai dari mempertanyakan identitas makhluk yang muncul, sumber teror, misteri yang terjadi, hingga bagaimana konflik tersebut berakhir.


Tiga Wajah Horor Modern

Budi juga memetakan perkembangan film horor modern ke dalam tiga subgenre utama, yakni Apocalyptic Horror, Demonic Horror, dan Psychological Horror.


Apocalyptic Horror berangkat dari ancaman kehancuran dunia atau peradaban. Sementara Demonic Horror menempatkan iblis, setan, kerasukan, atau kekuatan supranatural sebagai sumber ancaman.


Adapun Psychological Horror membangun ketakutan melalui trauma, paranoia, rasa bersalah, hingga gangguan persepsi manusia.


Ketiga pendekatan tersebut, menurut Budi, kini semakin banyak digunakan sineas Indonesia untuk memperluas cerita horor sehingga tidak berhenti pada kemunculan sosok hantu semata.


“Film horor Indonesia bukan hanya media untuk menakut-nakuti. Di dalamnya ada budaya, tradisi, sejarah, kepercayaan, dan gambaran kehidupan masyarakat Indonesia,” jelasnya.



Hasto Broto: Sutradara Bertugas Membuat Film Sebaik Mungkin

Sementara itu, sutradara Hasto Broto menegaskan bahwa tugas utama seorang sutradara adalah menghadirkan karya terbaik, apa pun genre yang digarap.


Baik horor, drama, komedi maupun komedi horor, menurut Hasto, sutradara harus fokus menerjemahkan cerita ke dalam eksekusi yang kuat.


Ketika produser meminta sebuah genre tertentu dibuat menjadi film, sutradara, kata Hasto, harus mampu menjalankan tanggung jawab kreatifnya. Sementara persoalan keberhasilan komersial tidak dapat sepenuhnya dijamin oleh siapa pun.


“Siapa pun sutradaranya pasti ingin membuat film yang terbaik. Genre apa pun, eksekusinya harus bagus. Soal komersial, itu tidak bisa dijamin. Film yang ramai di media sosial pun belum tentu membuat orang datang ke bioskop,” ujarnya.


Hasto menilai kekuatan film horor tetap terletak pada kemampuannya menghadirkan rasa takut. Namun, rasa takut tersebut dapat dibangun melalui beragam pendekatan, mulai dari mitos dan tradisi hingga spiritualitas serta konflik manusia.


Ia juga mengingatkan bahwa perfilman Indonesia tidak hanya berbicara mengenai horor. Banyak karya yang membawa pesan pendidikan, sosial, dan kemanusiaan, termasuk film yang mengangkat kehidupan penyandang disabilitas.


“Film adalah media yang luas. Ia bisa menakutkan, bisa menghibur, tetapi juga bisa menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan,” kata Hasto.


Menurut Hasto, pembagian tugas antara sutradara dan produser juga harus jelas. Sutradara bertanggung jawab membangun storytelling dan visual sehingga menghasilkan film yang baik. Sementara produser memiliki tanggung jawab terhadap strategi bisnis dan pemasaran agar karya tersebut dapat bertemu dengan penonton.


Budi Sumarno kemudian menimpali dengan pernyataan yang mengundang perhatian peserta diskusi.


“Biarkan sutradara berkarya menghasilkan film yang bagus. Setelah itu produser yang mengurus bagaimana film tersebut dipasarkan dan bertemu dengan penontonnya,” tuturnya.


Ncank Mail: Jangan Lepaskan Horor dari Akar Budaya

Sementara itu, Ncank Mail, Ketua Dewan Juri FFHoror, menyoroti tanggung jawab sineas ketika mengangkat budaya dan mitologi lokal ke dalam film.


Menurutnya, setiap film merupakan hasil dari proses kreatif. Karena itu, sebuah karya tidak bisa begitu saja dinilai hanya dari satu sudut pandang. Perbedaan pendekatan dan persepsi antara pembuat film dengan penonton menjadi bagian dari dinamika sebuah karya.


Ncank Mail juga menilai tidak ada formula atau “buku petunjuk” yang dapat menjamin sebuah film pasti sukses. Sineas harus memiliki kepekaan membaca situasi, memahami perkembangan pasar, sekaligus menjaga kualitas cerita dan produksinya.


Dalam diskusi tersebut, ia mengajukan sejumlah pertanyaan kritis kepada para narasumber. Salah satunya mengenai perspektif yang seharusnya menjadi pijakan dalam pembuatan film, apakah penulis skenario, sutradara, produser, atau penonton sebagai penerima akhir sebuah karya.


Ia juga menyoroti semakin banyaknya film horor Indonesia yang mengangkat mitos, tradisi lokal, serta cerita rakyat.


Menurut Ncank Mail, sineas memiliki tanggung jawab untuk memahami konteks budaya sebelum mengolahnya menjadi tontonan. Sebab, adaptasi ke layar lebar berpotensi memperkenalkan kembali mitologi Nusantara kepada generasi baru, tetapi pada saat yang sama juga dapat mengubah atau mendistorsi makna aslinya.


Horor: Antara Budaya dan Pasar

Fenomena kebangkitan film horor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi salah satu isu menarik yang dibahas.


Ncank Mail mempertanyakan apakah meningkatnya produksi dan minat terhadap film horor menunjukkan semakin terbukanya masyarakat terhadap isu kepercayaan dan spiritualitas, atau justru memperlihatkan bagaimana industri perfilman menemukan ceruk pasar baru melalui cerita-cerita yang bersumber dari ketakutan berbasis budaya.


Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa horor Indonesia kini berada pada persimpangan antara kreativitas, budaya, spiritualitas, dan kepentingan industri.


Diskusi FFHoror IX akhirnya tidak hanya menjadi ruang membicarakan bagaimana membuat penonton takut. Lebih jauh, forum tersebut menjadi ruang dialog antara praktisi film, sutradara, jurnalis, komunitas, dan penonton mengenai posisi film horor sebagai bagian dari perkembangan budaya populer Indonesia.


Di balik sosok hantu, mitos, ritual, dan teror yang hadir di layar, film horor ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih besar: tentang identitas budaya, perubahan masyarakat, kreativitas sineas, dan bagaimana industri perfilman Indonesia membaca selera penontonnya. (Red) 

Komentar

Tampilkan

Terkini