Mediaberita6 - Film Jodoh 3 Bujang meluncur di platform streaming Netflix setelah sebelumnya meraih perhatian di bioskop Indonesia sejak 26 Juni 2025. Dalam hitungan minggu setelah tayang di Netflix, karya ini menembus peringkat Top 10 Netflix Indonesia, bahkan berhasil menempati posisi teratas mengungguli judul internasional lain.
“Jodoh 3 Bujang” merupakan drama komedi keluarga yang mengangkat kisah tiga bersaudara dari Bugis–Makassar: Fadly, Kifli, dan Ahmad. Mereka hidup dalam tradisi yang menekankan pentingnya pernikahan kembar yaitu menikah bersama dalam satu acara sebagai cara untuk mengatur biaya pernikahan yang tinggi menurut adat uang panai. Namun rencana itu terancam runtuh ketika calon pasangan Fadly, Nisa, tiba-tiba dijodohkan orang tuanya dengan pria lain yang lebih mapan secara ekonomi. Konflik ini memaksa Fadly untuk menemukan calon pengganti dalam waktu singkat agar pernikahan ketiga saudara tetap bisa berlangsung.
Tema besar film ini bukan sekadar humor romantis, tetapi juga representasi tekanan sosial dan ekonomi yang dialami generasi muda dalam konteks tradisi lokal sesuatu yang jarang dieksplorasi dalam film komedi mainstream Indonesia.
Diarahkan oleh Arfan Sabran, sutradara yang awalnya dikenal lewat film dokumenter pemenang Piala Citra, Jodoh 3 Bujang merupakan karya fiksi panjang pertamanya. Menurut Arfan, membawa cerita yang memiliki “latar tradisi dan kedekatan dengan masyarakat Bugis–Makassar” ke layar besar merupakan tantangan sekaligus peluang besar.
Penulis skenario Erwin Wu mengungkapkan bahwa proses penulisan dilakukan dengan sangat hati-hati, terutama dalam menggambarkan adat uang panai agar tetap relevan tanpa terjebak stereotip atau sensasionalisme. Diskusi intens antara penulis, sutradara, dan tim produksi menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara komedi dan penghormatan terhadap budaya.
Film ini dibintangi oleh aktor muda yang tengah naik daun :
Jourdy Pranata sebagai Fadly
Christoffer Nelwan sebagai Ahmad
Rey Bong sebagai Kifli
Maizura sebagai Nisa
Cut Mini sebagai Fatimah (ibu dari ketiganya)
Deretan pemeran lain seperti Elsa Japasal, Nurra Datau, Arla Aliani turut memperkuat dinamika keluarga dan kisah cinta masing-masing karakter.
Penampilan para pemain dipuji mampu menyatukan komedi ringan dan emosi mendalam, terutama saat menghadirkan konflik batin dan tekanan sosial yang nyata, meski dikemas dalam tempo cerita yang menghibur.
Sejak dirilis secara global di Netflix, film ini mendapat sambutan hangat dari penonton. Data peringkat Netflix menunjukkan Jodoh 3 Bujang menduduki posisi teratas di Top 10 Netflix Indonesia, menandakan kuatnya daya tarik lokal film ini terhadap audiens Indonesia.
Banyak penonton mengapresiasi bagaimana film ini menggabungkan humor dengan isu sosial yang relevan, terutama dalam menyoroti tradisi yang kadang menjadi beban generasi muda tanpa menghilangkan nilai emosional cerita.
Nilai Budaya dan Dampaknya
Lebih dari sekadar hiburan, Jodoh 3 Bujang dianggap berhasil mencerminkan dinamika budaya Bugis–Makassar yang sering jarang terekspos di perfilman nasional. Representasi tradisi seperti nikah kembar dan uang panai dibingkai dengan perspektif kontemporer yang mampu membangkitkan diskusi mengenai nilai tradisi dan modernitas dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Dengan cerita yang segar, latar budaya yang kuat, serta kombinasi komedi dan drama yang seimbang, Jodoh 3 Bujang bukan sekadar film romantis biasa. Lewat pencapaian di Netflix dan sambutan positif publik, film ini menunjukkan bahwa karya lokal yang mengangkat akar budaya dapat bersaing bahkan di platform global. Bagi pecinta film Indonesia, ini adalah contoh bagaimana identitas lokal justru menjadi kekuatan utama dalam berkisah. (Guntur)


