Jakarta, Mediaberita6 – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi identitas, kekuatan pemersatu, sekaligus investasi strategis Indonesia dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Hal itu disampaikan Fadli saat menghadiri Forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Setiabudi, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Forum yang digelar Tutur Media Digital tersebut menjadi ruang dialog yang mempertemukan generasi muda dengan akademisi, praktisi, profesional, serta sejumlah tokoh nasional untuk membahas tantangan dan peluang Indonesia menuju 2045.
Dalam sambutannya, Fadli mengapresiasi penyelenggaraan forum yang mengangkat tema “Budaya Menjadi Indonesia”. Menurutnya, tema tersebut relevan karena kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Ia menyoroti bahasa dan tradisi lisan sebagai bagian penting dari identitas Indonesia yang terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
“Hampir seluruh aspek kehidupan kita tidak bisa lepas dari budaya. Dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan, salah satunya adalah bahasa, dan tradisi lisan Indonesia sangat kuat,” ujar Fadli.
Menurutnya, pembicaraan mengenai budaya juga harus diarahkan pada upaya menemukan kembali dan memperkuat identitas Indonesia di tengah derasnya globalisasi.
“Tema ‘Budaya Menjadi Indonesia’ penting untuk diangkat sebagai upaya reinventing Indonesian identity, untuk menemukan kembali identitas kita dari sisi budaya,” katanya.
Empat Pilar Pemajuan Kebudayaan
Fadli menjelaskan, Kementerian Kebudayaan saat ini berfokus pada empat pilar pemajuan kebudayaan, yakni pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan terhadap 10 objek pemajuan kebudayaan.
Langkah tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945, yang menegaskan kewajiban negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.
Di tengah pesatnya digitalisasi, pemerintah juga terus mendorong pelindungan warisan budaya sekaligus membangun ekosistem kebudayaan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Budaya Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Fadli juga mengingatkan agar kebudayaan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai sektor yang membutuhkan anggaran.
Menurutnya, kebudayaan justru memiliki potensi besar sebagai investasi dan soft power Indonesia, termasuk menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah langkah konkret dilakukan pemerintah, antara lain revitalisasi situs cagar budaya dan museum nasional serta upaya repatriasi atau pengembalian benda-benda budaya Indonesia yang berada di luar negeri.
Dengan pendekatan tersebut, kebudayaan diharapkan tidak hanya terjaga sebagai warisan, tetapi juga mampu memberikan manfaat sosial, pendidikan, diplomasi, hingga ekonomi bagi masyarakat.
Perbedaan Adalah Kekuatan
Fadli menekankan bahwa keberagaman budaya Indonesia merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama. Kebudayaan, menurutnya, dapat menjadi binding power atau kekuatan yang mengikat sekaligus mempersatukan masyarakat.
“Mari kita bersama-sama menjadikan kebudayaan ini sebagai fondasi, termasuk juga sebagai binding power, kekuatan pemersatu. Karena di negara lain perbedaan itu menjadi ancaman, tapi di Indonesia perbedaan ini justru menjadi salah satu sumber kekuatan,” tegasnya.
Karena itu, pemajuan kebudayaan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Fadli mendorong keterlibatan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, dunia usaha, korporasi, filantropi, komunitas, hingga generasi muda.
Forum Generasi Indonesia Bertutur turut menghadirkan Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua KPK periode 2011–2015 Abraham Samad, Direktur Bisnis Asuransi Jasindo Rosmaylinda Nasution, Founder Rumah Perubahan Rhenald Kasali, influencer Namira Monda, peneliti dan dosen M. Ali Ashat, Kepala Geothermal Research Center UGM Pri Utami, serta Pendiri dan Presiden Komisaris Tutur Media Digital Don Bosco Selamun.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Sjamsul Hadi.
Menutup sambutannya, Fadli berharap kolaborasi lintas sektor semakin diperkuat sehingga pemajuan kebudayaan tidak hanya menghasilkan pelestarian warisan budaya, tetapi juga membangun ekosistem kebudayaan yang hidup, produktif, dan relevan bagi generasi masa depan. (Aa)



