Mediaberita6 - Jakarta, 30 Oktober 2026, Kisah Tasya, model tuli yang memulai karier sejak kelas 3 SD, menjadi TOP Model Indonesia 2022, dan tampil di ajang fashion internasional, kini hadir melalui film drama inklusif karya sutradara Mimi Jegon. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran bukan penghalang untuk berprestasi dan berkarya.
Bali tidak pernah kehabisan talenta dan cerita inspiratif. Salah satunya datang dari Tasya, seorang remaja tuli yang telah membangun perjalanan panjang di dunia modeling sejak masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Kini, perjalanan kreatifnya memasuki babak baru melalui film drama inklusif “Terangku Dalam Gelapku”, yang disutradarai oleh Mimi Jegon.
Bagi Tasya, dunia modeling bukan sekadar hobi atau kegiatan mengisi waktu luang. Sejak usia dini, panggung fashion telah menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan, kepercayaan diri, dan potensi dirinya.
Perjalanan tersebut membuahkan berbagai prestasi. Tasya pernah meraih gelar TOP Model Indonesia 2022 sekaligus pemegang Piala Bergilir RI, TOP Model Peragawati Provinsi Bali, serta Miss Preteen Jakarta. Ia juga pernah meraih penghargaan Best Modeling Cilik dan mengikuti berbagai ajang modeling lainnya.
Pengalaman Tasya tidak hanya terbatas di panggung nasional. Ia juga pernah tampil dalam fashion runway di Thailand. Terbaru, pada 20 September 2026, Tasya turut mengikuti ASEAN Fashion Festival di Lippo Mall Jakarta, sebuah kesempatan untuk kembali menunjukkan eksistensinya di dunia fashion.
Deretan pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa talenta, kedisiplinan, dan kesempatan dapat membuka jalan prestasi tanpa harus dibatasi oleh kondisi fisik seseorang.
Dari Panggung Fashion Menuju Dunia Perfilman
Kini, Tasya memperluas ruang ekspresinya melalui film “Terangku Dalam Gelapku”, sebuah drama inklusif yang disutradarai oleh Mimi Jegon.
Setelah sebelumnya dikenal melalui delapan produksi film bergenre horor, Mimi Jegon mengambil langkah berbeda dengan menggarap film drama yang mengangkat persahabatan lima anak penyandang disabilitas.
Film ini bukan hanya menghadirkan cerita tentang persahabatan, keberanian, dan penerimaan, tetapi juga membuka ruang bagi talenta disabilitas untuk terlibat langsung dalam industri perfilman.
Kehadiran Tasya menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Pengalamannya sebagai model profesional memberikan warna bagi karakter yang diperankannya. Ia membawa pengalaman panggung, ekspresi, kedisiplinan, dan kepercayaan diri ke dalam medium film.
Melalui keterlibatannya, Tasya memperlihatkan bahwa talenta disabilitas tidak seharusnya hanya hadir sebagai objek cerita, tetapi juga sebagai pelaku seni yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berkembang secara profesional.
Delapan Film Horor, Kini Drama Inklusif
Langkah Mimi Jegon melalui Terangku Dalam Gelapku juga menjadi momentum penting bagi perkembangan perfilman Bali.
Setelah menggarap delapan film horor, pilihannya untuk menghadirkan drama inklusif menunjukkan bahwa perfilman memiliki ruang yang luas untuk mengeksplorasi tema kemanusiaan, keberagaman, dan pemberdayaan.
Film ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi talenta lokal Bali kepada industri perfilman nasional. Bukan hanya aktor dan aktris, tetapi juga penulis cerita, kru produksi, pekerja kreatif, penyedia jasa, serta pelaku usaha yang dapat terlibat dalam rantai produksi film.
Bali Membutuhkan Ekosistem Perfilman yang Serius
Bali dikenal dunia karena pariwisata, seni, budaya, dan kreativitas masyarakatnya. Namun, potensi Bali sesungguhnya dapat berkembang lebih jauh melalui industri perfilman.
Produksi film dapat menggerakkan banyak sektor ekonomi, mulai dari penyewaan peralatan, transportasi, hotel, restoran, tata rias, busana, hingga promosi, distribusi, festival, dan pemutaran film.
Karena itu, sudah saatnya pengusaha, investor, dan pemerintah daerah melihat perfilman sebagai bagian dari peluang investasi ekonomi kreatif.
Pemerintah Bali dapat mengambil peran melalui pengembangan sumber daya manusia, fasilitasi produksi, kemudahan koordinasi perizinan, pengembangan festival film, serta kemitraan antara sineas, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan sektor pariwisata.
Investor dan pengusaha juga memiliki peluang untuk berpartisipasi dalam pendanaan produksi, pengembangan rumah produksi, fasilitas kreatif, hingga distribusi film melalui bioskop dan platform digital.
Pengembangan ini harus dibangun dengan perencanaan bisnis, tata kelola profesional, dan strategi distribusi yang terukur agar industri film tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menciptakan keberlanjutan ekonomi.
Kisah Tasya memberikan pesan penting bahwa inklusi tidak cukup hanya dibicarakan. Inklusi harus diwujudkan melalui kesempatan nyata.
Dari panggung modeling sejak kelas 3 SD, meraih berbagai penghargaan, tampil di Thailand, hingga mengikuti ASEAN Fashion Festival, Tasya telah menunjukkan bahwa seorang perempuan tuli dapat membangun perjalanan prestasi melalui dunia seni dan kreativitas.
Kini, melalui Terangku Dalam Gelapku, perjalanan tersebut berlanjut ke dunia perfilman.
Inilah semangat yang perlu dikembangkan oleh industri kreatif Bali: memberikan kesempatan berdasarkan kompetensi, membuka akses yang setara, serta membangun lingkungan kerja yang dapat menerima keberagaman.
Tasya bukan sekadar pemeran dalam sebuah film. Ia adalah representasi talenta muda disabilitas yang memiliki prestasi, pengalaman, dan masa depan dalam industri kreatif.
Bali memiliki cerita. Bali memiliki budaya. Bali memiliki talenta. Yang dibutuhkan sekarang adalah ekosistem yang mampu mempertemukan kreativitas, investasi, kebijakan, dan kesempatan.
Saatnya Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai ruang lahirnya karya film, talenta kreatif, dan industri perfilman Indonesia yang inklusif serta berdaya saing.
Tasya telah membuktikan bahwa panggung tidak mengenal batas. Kini, saatnya industri perfilman membuka panggung yang sama bagi semua talenta. (BS)



Komentar